Di Minahasa, Dirjen Perkim Paparkan Strategi Tekan ‘Backlog’ 9,9 Juta Unit
- account_circle Anes Walean
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 22
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INTANANEWS – Pemerintah terus berupaya mempercepat penyediaan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Langkah ini bertujuan menekan angka kesenjangan kebutuhan rumah atau backlog yang masih tinggi di tingkat nasional.
Dirjen Perumahan dan Perkotaan, Sri Haryati, menyampaikan hal tersebut di Minahasa, Rabu (8/4/2026).

Ia hadir mewakili Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman dalam acara serah terima kunci rumah di Perumahan Griya Bumi Asih Sawangan.
”Kami terus mengevaluasi program agar penyediaan rumah berjalan cepat. Angka backlog atau kesenjangan kebutuhan rumah kita mencapai 9,9 juta unit,” ujar Sri Haryati.
Sri Haryati menjelaskan bahwa pemerintah aktif berdiskusi dengan para pemangku kepentingan. Fokus utama saat ini adalah percepatan pembangunan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Tahun lalu, capaian pembangunan perumahan nasional mencatatkan angka 278 ribu unit lebih.
Namun, tantangan keterbatasan lahan di wilayah perkotaan kini menjadi perhatian serius bagi pemerintah.
Oleh karena itu, lanjut dia, pemerintah mendorong pembangunan rumah susun subsidi di daerah perkotaan.

Hal ini menjadi solusi logis di tengah harga tanah yang semakin mahal.
”Kami menyiapkan kuota 350 ribu unit rumah susun subsidi. Kebijakan ini juga sudah mendapatkan tanda tangan resmi dari menteri,” tambah Sri.
Pemerintah memberikan berbagai kemudahan bagi masyarakat yang ingin memiliki hunian.

Insentif tersebut berupa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang ditanggung oleh negara.
Selain itu, terdapat juga program Perizinan Bangunan Gedung (PBG) secara gratis. Sri juga mendorong pemerintah daerah untuk mempercepat validasi Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).
”Kami berupaya mencari solusi bagi warga yang memiliki kendala kredit. Koordinasi dengan pihak OJK terus kami lakukan secara intensif,” jelasnya.
Sri Haryati menggarisbawahi pentingnya edukasi mengenai literasi keuangan bagi masyarakat.
Hal ini bertujuan agar proses peminjaman modal tidak menjadi hambatan bagi generasi mendatang.

Pada kesempatan yang sama, Sri mengapresiasi Angga, seorang pengembang yang merintis karier sebagai tenaga kebersihan.
Angga memiliki target membangun 6.000 unit rumah pada tahun ini.
”Kerja keras dan doa menjadi kunci keberhasilan dalam menyediakan rumah. Semoga ini menginspirasi pengembang lain di seluruh Indonesia,” kata Sri.
Ia menambahkan, Kementerian terus berkomitmen menciptakan terobosan dalam penyediaan hunian.
Fokus utamanya adalah mewujudkan tempat tinggal yang aman, layak, dan terjangkau bagi seluruh rakyat. (nes)
- Penulis: Anes Walean

Saat ini belum ada komentar