Ketum Projo Budi Arie Sebut Bakal Ada Perubahan Politik Sebelum Pemilu 2029, PSI: Itu Perbuatan Gelandangan Politik
- account_circle Norman Meoko
- calendar_month Selasa, 25 Agt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Presiden Prabowo Subianto duduk diapit Presiden ke-7 Jokowi dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat menonton atraksi jet di Istana Negara pada peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI. (Foto: Dok/YouTube Sekretariat Presiden)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, INTANA.NEWS – Pernyataan Ketua Umum (Ketum) Relawan Projo, Budi Arie Setiadi terbaru membuat perhelatan politik dalam negeri memanas.
Pernyataan Budi itu beredar dalam sebuah video di media sosial.
Dalam video tersebut, Budi tampak duduk di sebelah Jokowi saat menyampaikan pandangannya terkait kemungkinan adanya perubahan situasi politik sebelum Pemilu 2029.
Dalam kesempatan itu, Budi secara terbuka menyebutkan bahwa bakal ada “percepatan sejarah” terkait dinamika politik di Indonesia.
Dia mengatakan bahwa kondisi masyarakat saat ini menunjukkan adanya sejumlah anomali yang menurutnya perlu menjadi perhatian. Ia mengaku memiliki insting bahwa dinamika politik bisa bergerak lebih cepat dari perkiraan.
“Tetapi saya ingin sampaikan, tadi saya sudah bisik ke Pak Jokowi. Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari ’29 Pak. Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong pemilu ’29, pemilu ’29. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap nggak?” tuturnya.
Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bestari Barus merespons pernyataan Ketua Umum Relawan Projo, Budi Arie Setiadi itu.
“Jadi gini. Ya sangat disayangkan gitu bahwa hal-hal seperti itu harus mengemuka di saat hubungan antara Pak Jokowi dengan Pak Prabowo itu masih baik-baik saja. Jadi ini kami melihatnya adalah hanya kepentingan pribadi dari Budi Arie. Ya kepentingan pribadi yang lebih menguat di situ,” tuturnya, Selasa (25/8/2026).
Wujud Kekecewaan Pribadi
Dia menduga pernyataan tersebut berkaitan dengan kekecewaan pribadi Budi setelah tidak lagi menjabat sebagai menteri dan tidak diterima bergabung dengan sejumlah partai politik.
“Mungkin karena banyak kekecewaan yang dia alami, berhenti jadi menteri, kemudian masuk ke partai Pak Prabowo nggak diterima, ditolak, mau ke PSI juga kami sudah menyatakan tidak akan menerima. Jadi dia seharusnya bisa melihat itu sebagai pelajaran atas apa yang dia pernah lakukan,” katanya.
“Budi seharusnya menyampaikan pandangan tersebut secara pribadi tanpa membawa nama atau keberadaan Jokowi yang berada di sampingnya. Jangan nanti akhirnya kemudian mengungkapkan hal-hal yang seperti ini ke depan publik meminjam wajah Pak Jokowi yang lagi duduk di sebelahnya,” tuturnya.
Dia menyebutkan apa yang dilakukan Budi itu seperti perbuatan gelandangan politik.
“Yang ke sana nggak, ke sini nggak, tapi lebih banyak mengeluh saja. Kemudian menyatakan bahwa kondisi bisa terjadi percepatan suksesi segala macam. Ini kan sama dengan melempar bola panas yang bisa ditanggapi negatif oleh para pihak dan berpotensi ini merusak hubungan antar dua tokoh bangsa gitu loh,” dia menyebutkan.
Bestari mengaku tidak memahami maksud Budi menyampaikan pernyataan tersebut. Namun, ia menduga ada kepentingan politik tertentu di balik wacana tersebut.
Ia juga menilai Budi seharusnya menyampaikan pendapatnya sebagai pribadi tanpa melibatkan Jokowi.
Bestari mengatakan, gestur Jokowi dalam video tersebut memperlihatkan ketidaksetujuan terhadap pernyataan yang dilontarkan Budi.
“Kita kan melihat bahwa betapa gestur Pak Jokowi memperlihatkan tidak sepakat dengan itu, bahkan mungkin kecewa kali ya kok ada acara seperti itu. Padahal, kalau betul-betul dia adalah pendukung Pak Jokowi, mosok kupingnya Budi Arie itu nggak pernah denger bahwa Pak Jokowi memerintahkan kami di PSI untuk dukung Prabowo-Gibran dua periode,” dia menambahkan.(nor)

Saat ini belum ada komentar