Babinsa Kawal Sejarah, Pierre Tendean Kini ‘Pulang’ ke Remboken
- account_circle Anes Walean
- calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
- visibility 31
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INTANANEWS – Langkah kaki Sertu Soultje Papilaya dan Serda Adrianto mantap.
Jumat itu, 27 Maret 2026, dua Babinsa Koramil 1302-04/Remboken ini punya misi khusus. Bukan patroli biasa.
Mereka sedang memastikan sejarah besar mendarat di Desa Timu, Kecamatan Remboken, Minahasa.
Di sana, sebuah patung baru saja berdiri. Sosoknya tegas.
Kapten Czi (Anumerta) Pierre Tendean. Pahlawan revolusi itu kini hadir secara fisik di tanah leluhurnya.
Babinsa tidak sendirian. Mereka mewakili Pgs Danramil Sertu Romy Supit.
Di lokasi, sinergi terlihat nyata. Ada Camat Remboken Eightme Moniung hingga tokoh akademisi Edwin Moniaga.
Kerja Kolaborasi
Patung ini bukan proyek kemarin sore. Ini hasil kerja bareng.
Ada peran kawanua di Amerika (KEWPR USA) dan KWPR Sulawesi Utara. Pdt. Renata Ticonuwu dari KWPR Sulut juga hadir di sana.
Babinsa menjadi saksi penting.
Mereka hadir untuk memastikan bahwa monumen pahlawan yang gugur di usia 26 tahun itu berdiri di tempat yang tepat.
Di tengah masyarakat yang harus mewarisi keberaniannya.
Pesan untuk Anak Muda
Mengapa Pierre Tendean? Jawabannya sederhana. Loyalitas.
Tahun 1965, Pierre adalah ajudan Jenderal A.H. Nasution.
Ia punya pilihan untuk selamat, tapi ia memilih mengaku sebagai sang jenderal demi melindungi atasannya. Nyawa taruhannya.
Kini, melalui kehadiran Babinsa dan perangkat pemerintah di peresmian itu, pesan tersebut ingin ditanamkan ulang.
Generasi muda Remboken tidak boleh lupa bahwa dari tanah ini, pernah lahir seorang patriot besar.
Sejarah yang Hidup
Desa Timu kini punya ikon baru. Patung ini berdiri kokoh sebagai pengingat sejarah.
Upaya pelestarian ini memang menyasar daerah-daerah yang punya ikatan batin dengan sang pahlawan.
Bagi Babinsa Remboken, hadirnya patung ini adalah kemenangan kecil dalam menjaga ingatan kolektif bangsa.
Sejarah tidak boleh hanya tersimpan di buku. Ia harus berdiri tegak di pinggir jalan, agar setiap orang yang lewat tahu, di sini semangat Pierre Tendean tetap hidup. (nes)
- Penulis: Anes Walean

Saat ini belum ada komentar