Korban Siswa Berjatuhan, Federasi Serikat Guru Indonesia Desak Pemerintah Evaluasi Program MBG secara Menyeluruh
- account_circle Norman Meoko
- calendar_month Minggu, 5 Apr 2026
- visibility 55
- comment 0 komentar
- print Cetak

Para korban keracunan program MBG sedang mendapatkan penanganan medis.(Foto: Dok/jabarnews.com)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INTANANEWS – Pemerintah didesak mengevaluasi program makan bergizi gratis (MBG) secara menyeluruh. Desakan itu disampaikan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI).
Terbaru sedikitnya 72 siswa di Pondok Kelapa, Jakarta Timur mengalami keracunan seusai menyantap menu makan bergizi pada Jumat (3/4/2026).
Demikian Ketua Dewan Pakar FSGI Retno Listyarti dalam keterangan tertulisnya pada Minggu (5/4/2026).
”Pemerintah abai menganalisis saat ada kasus keracunan MBG, padahal angka keracunan justru menunjukkan masalah yang semakin serius”, katanya.
Selanjutnya dia mengemukakan, selama ini pemerintah kerap menilai keberhasilan MBG dari tingginya angka penerima manfaat. Namun pemerintah luput menghitung ribuan kasus keracunan yang menyertainya.
“Saya menyesalkan insiden keracunan yang menimpa 72 siswa di Jakarta Timur, padahal kegiatan pembelajaran baru saja dimulai usai libur Lebaran,” ucapnya.
Kasus di Jakarta Timur itu menambah daftar panjang kasus keracunan akibat program MBG.
“Dalam dua bulan pertama 2026, korban keracunan MBG mencapai 4.755 orang. Pada Februari 2026, jumlah korban keracunan MBG tercatat 1.920 orang. Angka ini memang turun 32,2 persen dibanding Januari yang mencapai 2.835 orang,” dia mengungkapkan.
Dia menambahkan, jika dilihat secara keseluruhan, dalam dua bulan pertama tahun 2026 jumlah korban sudah mencapai 4.755 orang.
Artinya, rata-rata setiap bulan ada 2.377,5 korban, lebih banyak dibandingkan rata-rata korban keracunan MBG tahun lalu.
Mengutip data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia, Retno mengungkapkan bahwa terdapat 20.012 korban sepanjang tahun atau rata-rata 1.667,7 orang per bulan. Angka itu menunjukan rata-rata korban per bulan pada 2026 naik 42,56 persen dibanding 2025.
“Berarti ada kenaikan signifikan korban keracunan MBG,” Retno menambahkan.
Seperti dikutip dari BBC News Indonesia kasus keracunan massal ini umumnya disebabkan oleh kesalahan prosedur teknis dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) seperti memasak terlalu awal sehingga makanan basi sebelum dikonsumsi.
Berdasarkan data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia per 12 Oktober 2025, jumlah korban tembus 11.566 anak. Data lain menunjukkan tren peningkatan kasus, bahkan diproyeksikan mencapai ribuan korban di berbagai provinsi.
Wilayah kasus keracunan massal terparah terjadi di Jawa Barat (lebih dari 4.955 kasus per akhir Oktober 2025), termasuk kejadian menonjol di Bandung Barat dan Cimahi.
Para siswa mengalami gejala keracunan seperti mual, muntah, pusing, dan lemas akibat dehidrasi berat. Terkait hal itu, pemerintah menutup sementara SPPG yang lalai untuk perbaikan teknis.(nor)
- Penulis: Norman Meoko

Saat ini belum ada komentar