Memanusiakan Manusia di Tondano, Catatan dari Halaman Rumah Dinas Kalapas
- account_circle Anes Walean
- calendar_month Senin, 27 Apr 2026
- visibility 51
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MINAHASA, INTANA.NEWS – Sore itu udara Minahasa masih terasa segar. Di halaman Rumah Dinas Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas IIB Tondano, Senin (22/4/2026), suasananya beda.
Tidak ada kesan kaku. Tidak ada sekat besi. Kalapas Tondano, Yulius Jum Hertantono, duduk santai melingkar bersama para wartawan Minahasa.
Agendanya sederhana, Media Gathering. Tapi pesannya dalam.
Yulius tahu betul. Mengelola Lapas bukan sekadar menjaga gembok dan jeruji. Ini soal mengelola manusia.
Ada ratusan warga binaan di dalam sana yang sedang “disekolahkan” oleh nasib.
Yulius ingin mengetuk hati semua pihak, bahwa membenahi masa depan mereka adalah kerja besar yang butuh banyak tangan.
”Ini tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.
Ia ingin berita yang keluar dari balik tembok Lapas bersifat proporsional.
Bukan hanya soal sisi gelap yang sering jadi bumbu sedap berita kriminal.
Tapi juga soal bagaimana seorang warga binaan belajar berkarya, bertani, atau sekadar menemukan kembali Tuhan di dalam sunyinya sel.
Kalapas ingin pers menjadi jembatan. Jembatan yang tidak hanya menghakimi masa lalu, tapi memberi ruang bagi masa depan.
Ia sadar, Lapas Tondano tidak mungkin sempurna tanpa mata dari luar. Itulah mengapa ia membuka pintu lebar-lebar untuk setiap masukan.
Bagi Yulius, masukan dan kritik adalah jamu. Pahit di lidah, tapi menyehatkan organisasi.
Ia berharap dukungan media bukan sekadar seremoni, melainkan kontrol sosial agar institusi yang dipimpinnya terus berbenah.
Pertemuan di halaman rumah dinas itu diakhiri dengan tawa. Tapi di balik tawa itu, ada komitmen besar, bahwa warga binaan adalah bagian dari kita.
Dan memanusiakan mereka adalah tugas kita semua. (nes)
- Penulis: Anes Walean
