Beribadah di GMIM Maranatha Makassar, Bupati Robby Dondokambey dan Istri Larut dalam Kebersamaan Jemaat
- account_circle Anes Walean
- calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
- visibility 24
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MAKASSAR, INTANA.NEWS — Tangan lansia itu bergetar sedikit saat menyambut sepasang tangan di hadapannya. Tetapi senyumnya merekah begitu lebar.
Di depannya, Bupati Minahasa, Dr. Robby Dondokambey, S.Si, MAP, mengulurkan tangan dengan penuh hormat. Setengah membungkuk.
Sebuah gesture hormat yang tulus kepada sang ibu sepuh yang mengenakan gaun brokat kuning cerah pagi itu.
Di samping Bupati, sang istri, Ny. Martina W. Dondokambey-Lengkong, SE, ikut tersenyum hangat.
Suasana hati yang penuh keakraban itu terekam di hari Minggu yang teduh, 28 Juni 2026.
Di Gereja GMIM Jemaat Maranatha Makassar, Sulawesi Selatan, rumah ibadah ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan juga ruang pertemuan budaya yang penuh kehangatan.
Jauh-jauh dari Tanah Minahasa ke Kota Daeng, Bupati tidak sedang membawa protokoler birokrasi yang kaku.
Pagi itu, ia datang sebagai seorang warga jemaat biasa. Datang untuk beribadah.
Namun, bagi warga kawanua di perantauan Makassar, kehadiran pemimpin daerah asal mereka laksana penawar rindu pada kampung halaman.
GMIM Maranatha Makassar memang memikul fungsi ganda. Di tanah perantauan Sulawesi Selatan, gereja ini adalah pengikat budaya.
Tempat bertemunya iman, tradisi, dan ingatan kolektif akan tanah leluhur.
Hari itu, ibadah terasa lebih berbobot. Di dinding altar, sebuah baliho ungu menegaskan tema teologis yang kuat,
“Hiduplah sebagai terang yang membuahkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran.” Sebuah petikan dari Kitab Efesus.
Namun yang menarik adalah sub-temanya.
Sebuah pesan yang terasa sangat relevan dengan napas kebangsaan hari ini, bersama-sama mewujudkan masyarakat majemuk yang Pancasilais dan berdamai dengan segenap ciptaan Allah.
Robby Dondokambey tampaknya menghayati betul substansi pesan tersebut.
Bagi seorang kepala daerah, “menjadi terang” berarti melunturkan sekat-sekat pembatas.
Momen puncak ibadah bergulir ketika aspek formalitas mencair sepenuhnya.
Bupati bersama rombongan, termasuk Sekretaris Dewan Kabupaten Minahasa, diminta maju ke depan altar untuk mempersembahkan puji-pujian.
Di layar proyektor, tulisan itu terpampang jelas, puji-Pujian Bpk Bupati Minahasa dan Rombongan.
Bupati Robby Dondokambey, yang tampil dengan kemeja motif kotak – kotak biru-putih, berdiri memegang gawai untuk membaca lirik lagu pujian.
Di sebelahnya, sang Ketua TP-PKK Kabupaten Minahasa yang bergaun merah marun, ikut bernyanyi dengan anggun.
Suara mereka menyatu, larut dalam alunan nada bersama jemaat lainnya.
Usai ibadah usai, sesi dokumentasi bersama tak terhindarkan. Semua berdiri sejajar di tangga altar.
Tersenyum lepas menghadap kamera. Di depan mereka, tiga lilin putih tegak berdiri di atas meja altar yang berhias rangkaian bunga kuning-putih yang segar.
Lilin itu menyala kecil, namun konstan. Mengingatkan kembali pada komitmen tema ibadah untuk menjadi terang di tengah masyarakat yang majemuk. (nes)
- Penulis: Anes Walean
