Kerja Bakti di Tugu Korengkeng, Ketua PKK Minahasa: Menjaga Kebersihan Harus Jadi Budaya
- account_circle Anes Walean
- calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
- visibility 18
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TONDANO, INTANA.NEWS – Ada yang tahu Tugu Korengkeng Sarapung di Minahasa? Itu simbol sejarah. Simbol harga diri orang lokal.
Kamis pagi tadi, tugu itu mendadak ramai. Bukan karena ada demo. Bukan juga karena ada upacara yang formal. Ada kerja bakti massal.
Yang memimpin? Ini dia: Ibu Martina W. Dondokambey Lengkong. Ketua TP-PKK Kabupaten Minahasa.
Matahari Minahasa mulai terasa menyengat. Tapi Martina santai saja. Penampilannya kasual: kaos merah celana jins, dan topi merah.
Matahari makin tinggi, tapi Martina tidak canggung. Dia melangkah maju. Tangannya langsung memegang sapu.
Tanpa ragu, Ketua TP-PKK ini ikut membersihkan pembatas jalan.
Rumput liar yang nyempil di sela-sela tegel semen dicabutnya sendiri.
Melihat ketuanya gasspol seperti itu, mana ada anak buah yang berani berdiam diri?
Kader PKK langsung bergerak. Ibu-ibu Dekranasda ikut menyusul. Pengurus Dharma Wanita Persatuan tidak mau kalah.
Ada yang mengayunkan sapu lidi, ada yang sibuk mengeruk selokan.
Melihat ketuanya langsung turun tangan, semangat gotong royong itu langsung menular. Semua bergerak serentak.
Inilah esensi dari memimpin dengan teladan (lead by example).
”Menjaga kebersihan itu harus jadi budaya sehari-hari. Toh, yang menikmati hasilnya kita sendiri. Lingkungan bersih, hidup sehat,” ujarnya.
Benar juga. Langkah kecil dari Tugu Korengkeng ini sebenarnya punya visi besar.
Martina ingin aksi ini menyokong program nasional, Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Rapi, dan Indah).
Menjelang siang, kerja bakti itu usai. Tugu Korengkeng Sarapung langsung terlihat beda.
Jauh lebih resik. Cat merah pada tulisan tugu ikonik itu tampak lebih menyala.
Aksi hari itu memberikan pesan yang mendalam bagi kita semua bahwa merawat situs sejarah dan keindahan daerah bisa dimulai dari hal-hal paling sederhana.
Terkadang, kita hanya butuh seikat sapu lidi, kepedulian bersama, dan kebersamaan untuk bergotong royong.
Martina sudah memulai dengan sapu lidinya. Kita kapan?
- Penulis: Anes Walean
