Pertumbuhan Ekonomi RI Capai 5,61 Persen, Tertinggi di G20
- account_circle Anes Walean
- calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, INTANA.NEWS — Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas bersama jajaran menteri Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Rapat tersebut membahas penguatan stabilitas sistem keuangan nasional di tengah dinamika global.
Pemerintah mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai angka 5,61 persen.
Capaian ini menempatkan Indonesia pada posisi tertinggi di antara negara anggota G20.
Laju pertumbuhan tersebut melampaui performa ekonomi Cina, Singapura, Korea Selatan, Arab Saudi, hingga Amerika Serikat.
Indikator Makroekonomi Tetap Stabil
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa sejumlah indikator makroekonomi menunjukkan kondisi yang sehat.
Pemerintah berhasil menekan angka inflasi pada level 2,42 persen. Sementara itu, indeks kepercayaan konsumen tetap berada pada angka tinggi sebesar 13,55 persen.
”Neraca perdagangan kita juga terus mencatatkan surplus hingga mencapai 9,49 persen,” ujar Airlangga kepada awak media.
Menuju Fase Ekspansi Ekonomi
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kenaikan angka pertumbuhan ini merupakan sinyal positif bagi ekonomi nasional.
Menurut Purbaya, tren tersebut menunjukkan bahwa arah ekonomi mulai berbalik menuju fase ekspansi yang lebih kuat.
Efektivitas kebijakan pemerintah menjadi faktor kunci dalam mempercepat laju pertumbuhan tersebut.
Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen menjaga momentum positif ini melalui berbagai langkah strategis.
Fokus utama terletak pada percepatan pemulihan sektor-sektor produktif.
Prospek Penguatan Nilai Tukar Rupiah
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan optimisme serupa terhadap prospek nilai tukar rupiah.
Perry memandang posisi rupiah saat ini masih berada dalam kondisi undervalued atau di bawah nilai fundamentalnya.
Kuatnya fundamental ekonomi nasional memberi ruang bagi penguatan rupiah ke depan.
Bank Indonesia telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mendukung stabilitas nilai tukar tersebut.
Koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi landasan utama menjaga ketahanan ekonomi nasional. (Sumber:BPMI Setpres)
- Penulis: Anes Walean
