Batik Roll Cake Tomohon, Cara Lapas Perempuan Manado Cetak WBP Mandiri
- account_circle Anes Walean
- calendar_month 11 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TOMOHON, INTANA.NEWS – Kue gulung. Bermotif batik. Bikinnya susah. Hebatnya, kue cantik itu diproduksi di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIB Manado. Yang lokasinya di Tomohon itu. Yang udaranya adem itu.
Lebih hebat lagi instruktur kuenya. Bukan chef sewaan dari hotel bintang lima. Melainkan Kepala Lapas-nya sendiri, Patta Helena.
Hari itu, Ibu Kalapas langsung berganti celemek. Dia turun ke dapur lapas. Menjadi guru tata boga bagi para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Saat itu, Ibu Helena masih mengenakan seragam dinas lengkap.
Lengkap dengan tanda pangkatnya.
Namun, dia langsung memakai celemek biru bertuliskan “LAPAS PEREMPUAN MANADO”.
Tangannya begitu cekatan memegang mixer berwarna merah di depan spanduk merah muda bertuliskan “Happy Cooking CAKE AND COOKIES”.
Tidak ada canggung sama sekali.
Membuat Batik Roll Cake itu tidak mudah. Butuh tingkat ketelitian yang sangat tinggi.
Ibu Helena paham betul kesulitan itu. Maka, dia membimbing mereka dengan telaten. Satu per satu.
Ibu Kalapas sampai membungkuk dalam-dalam. Fokus penuh. Dia mengajari salah satu warga binaan secara langsung.
Tangannya lincah memegang piping bag berisi adonan biru, melukis motif di atas dasar adonan oranye. Salah sedikit saja, motifnya bisa rusak berantakan.
Belum selesai sampai di situ. Ujian utamanya ada pada proses akhir, menggulung kue.
Kalau terlalu ditekan, kuenya pecah. Kalau kurang mantap, gulungannya longgar. Estetikanya hilang. Padahal, keindahan visual itulah yang membuat kue ini punya nilai jual tinggi.
Hasil dari ketelatenan itu luar biasa. Begitu matang dan diletakkan di atas cooling rack, kue tersebut memamerkan motif batik mirip Mega Mendung yang sangat presisi.
Perpaduan warna biru-toska dan merahnya begitu menyala. Sangat rapi.
Kreativitas di dapur lapas ini ternyata tidak berhenti pada motif batik saja.
Mereka bahkan bereksperimen membuat motif lain yang tak kalah rumit, karakter burung hantu (Manguni) berwarna merah dan kuning dengan latar hijau kelam sebelum masuk ke oven. Kreatif!
Melihat sang kepala lapas begitu sabar memegang spatula dan mengajari mereka, para WBP perempuan itu pun luluh.
Mereka antusias. Semangatnya berlipat ganda. Suasana dapur lapas yang biasanya senyap, berubah jadi hidup. Penuh tawa dan aroma wangi kue yang baru matang.
Bagi Lapas Perempuan Manado, kegiatan ini adalah investasi masa depan. Program kemandirian yang nyata.
Target Ibu Helena jelas, bekal hidup Warga Binaan setelah bebas.
Dia ingin, begitu para warga binaan ini bebas nanti, mereka punya modal keterampilan yang kuat.
Jemari yang dulunya mungkin pernah tersandung masalah hukum, kini telah berubah menjadi jemari yang terampil dan menghasilkan karya yang manis.
Jemari yang bisa digunakan untuk membuka usaha mandiri, memutar roda ekonomi keluarga, dan yang terpenting, mengembalikan rasa percaya diri mereka di tengah masyarakat.
Sebuah langkah manis dan penuh rasa kemanusiaan dari Lapas Perempuan Kelas IIB Manado di Tomohon, untuk masa depan yang lebih bermartabat. (nes)
- Penulis: Anes Walean
