Resmi Dilantik, Jueen Hanna Monangin Siap Wujudkan Tata Kelola Desa yang Transparan
- account_circle Anes Walean
- calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Hukum Tua Desa Amongena 3 Jueen Hanna Monangin.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TONDANO, INTANA.NEWS — Suasana di Gedung Wale Ne Tou, Tondano, Selasa (14/7/2026), terasa berbeda. Pagi itu, sebanyak 128 orang resmi mengemban amanah baru sebagai Hukum Tua terpilih di Kabupaten Minahasa.
Di antara barisan itu, ada satu wajah yang tampak tenang namun menyimpan tekad besar: Jueen Hanna Monangin.
Bupati Minahasa, Dr. Robby Dondokambey, S. Si, MAP, resmi melantik para pemimpin desa tersebut.

Dalam sambutannya, Bupati Robby melontarkan pesan sederhana namun sarat makna bagi para pemimpin yang baru dilantik.
“Seorang pemimpin tidak diukur dari besarnya kewenangan, tetapi dari manfaat yang dirasakan masyarakat,” ujar Bupati Robby.
Pesan itu menegaskan bahwa jabatan bukanlah soal seberapa tinggi kursi yang diduduki, melainkan seberapa sering telapak tangan kita menjabat tangan masyarakat yang sedang kesulitan.
Hanna Monangin menangkap pesan itu dengan baik. Bagi wanita yang kini memimpin Desa Amongena Tiga ini, jabatan bukanlah takhta untuk memerintah, melainkan tanggung jawab untuk melayani.
Saat maju dalam pemilihan, Hanna tidak datang dengan janji manis yang mengawang.
Ia membawa visi yang konkret: membangun tata kelola pemerintahan desa yang baik, bersih, transparan, dan berkeadilan.
Misi-misinya pun sangat merakyat, ia ingin pelayanan publik lebih baik dan transparansi informasi menjadi pilar utama di Amongena Tiga.
Program kerjanya mencakup delapan poin strategis yang bukan sekadar katalog janji.

Ia memikirkan infrastruktur yang tepat sasaran, pengembangan kawasan ekonomi desa, hingga menghidupkan industri UMKM. Hanna paham, tanpa ekonomi yang bergerak, desa akan mati suri.
Ia juga menyentuh aspek paling fundamental, yakni pendidikan, kesehatan, dan kualitas SDM.
Sisi humanis Hanna terlihat jelas pada programnya yang memberikan insentif bagi para janda dan memastikan penerangan lampu jalan tetap terjaga.

Bagi Hanna, program-program ini adalah alat untuk mencapai tujuan besarnya: Desa Amongena Tiga yang maju, sejahtera, aman, dan diberkati dalam keragaman.
Kini, setelah resmi dilantik, Hanna tidak ingin berlama-lama larut dalam euforia. Baginya, pekerjaan sesungguhnya baru saja dimulai.
“Mari kita bersama-sama membangun desa,” ajak Hanna.
Sebuah ajakan sederhana, namun sarat makna. Hanna tahu, ia tidak bisa bekerja sendirian, ia butuh tangan-tangan warga Amongena Tiga untuk bergotong royong.
Masyarakat memang sering lupa tanggal pelantikan pemimpinnya, tapi mereka tidak akan pernah lupa bagaimana pemimpinnya memperlakukan mereka saat mereka sedang sulit.
Itulah tantangan Hanna ke depan, menjadi pemimpin yang manfaatnya dirasakan nyata, bukan sekadar pemimpin yang namanya tertulis di prasasti.
Selamat bekerja, Srikandi Amongena Tiga. (nes)
- Penulis: Anes Walean
