Merajut Kedekatan Koramil 1302-06/Tomohon dan Rakyat Melalui Layar Kaca
- account_circle Anes Walean
- calendar_month 21 jam yang lalu
- visibility 12
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oplus_131072
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TOMOHON, INTANA.NEWS — Di tengah suhu udara Kota Tomohon, Sulawesi Utara, yang menusuk tulang pada Jumat (3/7/2026) dini hari, sebuah pemandangan berbeda terlihat di Koramil 1302-06/Tomohon.
Ketika sebagian besar warga masih terlelap di balik selimut tebal, ruang utama Koramil justru benderang oleh cahaya dari layar televisi.
Pagi itu, jarum jam baru menunjukkan pukul 03.00 WITA. Sebanyak 15 orang berkumpul dengan mata tertuju pada pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara tim nasional Spanyol dan Austria.
Dari belasan penonton yang tengah menahan kantuk tersebut, tujuh orang di antaranya merupakan personel TNI, sedangkan delapan lainnya adalah warga sipil yang tinggal di sekitar markas.
Di atas lapangan hijau, pertandingan sebenarnya berjalan kurang seimbang.
Spanyol tampil mendominasi dan menyudahi perlawanan Austria dengan skor telak 3-0, sekaligus mengamankan tiket ke babak 16 besar.
Namun, bagi mereka yang berkumpul di Koramil Tomohon, dinamika taktik di lapangan tampaknya menjadi nomor dua.
Esensi utama dari kegiatan nonton bareng (nobar) subuh itu adalah ruang interaksi sosial yang tercipta tanpa sekat.
Duduk berdampingan sembari menyoraki peluang yang sama atau menghela napas bersama saat tendangan meleset menjadi pemandangan yang jamak terlihat sepanjang dua jam pertandingan.
Di sinilah konsep yang sering disebut dalam doktrin militer sebagai Kemanunggalan TNI-Rakyat mewujud secara nyata.
Pada subuh itu, konsep tersebut mencair secara natural melalui hal-hal sederhana:
- Kepulan asap kopi hangat dan aroma mi instan yang dinikmati bersama.
- Tawa lepas yang pecah setiap kali gawang lawan terancam.
- Peleburan batas status sosial antara seragam loreng dan pakaian sipil.
Melalui ruang-ruang informal seperti ini, rasa saling percaya antara aparat teritorial dan warga dapat tumbuh secara alami.
Ketika wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan sekitar pukul 05.00 WITA, rona fajar mulai menyemburat di langit Tomohon.
Spanyol mungkin pulang membawa tiket babak 16 besar turnamen global, tetapi warga dan prajurit TNI di Tomohon pulang membawa modal sosial yang jauh lebih berharga:
Ikatan persaudaraan yang kian rekat. (*)
- Penulis: Anes Walean
