Tenda-tenda di Wawalintoan, Ketika Kodim 1302/Minahasa Meracik Jiwa Merdeka Anak Madrasah
- account_circle Anes Walean
- calendar_month 35 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MINAHASA, INTANA.NEWS – Udara Tondano, Selasa pagi (29/9/2026), mendadak riuh oleh derap langkah dan gelak tawa penuh semangat.
Di Kelurahan Wawalintoan, Kecamatan Tondano Barat, puluhan tenda berdiri megah.
Bukan sekadar tenda biasa.
Ini adalah pusat kawah candradimuka, Perkemahan Pramuka Madrasah Minahasa (PPMM) ke-VII.
Sebanyak 150 pelajar berkumpul di sana. Menanggalkan sejenak kejenuhan rutinitas kelas, lalu memilih belajar langsung dari alam terbuka.
Tapi, ada yang menarik perhatian pagi itu.
Bukan hanya para guru atau pembina pramuka yang sibuk mondar-mandir. Ada seragam loreng yang ikut membaur hangat di tengah-tengah para peserta.

Dialah Danramil 1302-01/Tondano, Kapten Inf Djefri Ando.
Mewakili Kodim 1302/Minahasa, Kapten Djefri datang bukan sekadar memenuhi undangan. Ia membawa misi penting, memastikan tunas-tunas bangsa ini tumbuh dengan mental baja.
Bagi Kodim 1302/Minahasa, urusan bela negara tidak harus selalu di medan tempur. Bisa dimulai dari lapangan perkemahan.
Dari cara melipat tenda, merajut kerjasama tim, hingga menumbuhkan cinta tanah air tanpa tapi.
”Kehadiran kami di sini adalah wujud dukungan penuh agar anak-anak madrasah kita tumbuh menjadi generasi yang disiplin, mandiri, dan punya nasionalisme tinggi,” ujar Djefri mantap, di sela-sela riuhnya suasana perkemahan.
Suasana pembukaan pagi itu terasa gayeng.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Minahasa, Pdt. Dolie Tangian, tampil membuka acara secara resmi.
Kolaborasi yang adem dilihat.
Kemenag, TNI, kepolisian, hingga unsur pemerintah daerah duduk bersama, merestui langkah awal anak-anak muda ini.
Sebab, membangun karakter bangsa memang tidak bisa sendirian. Harus keroyokan.
PPMM ke-VII ini dijadwalkan berlangsung hingga 3 Oktober 2026 mendatang.
Selama beberapa hari ke depan, para peserta tidak cuma diajari cara bertahan hidup di alam. Mereka ditempa mentalnya, diajak peduli pada sesama, dan dilatih peka pada lingkungan sekitar.
Dari Wawalintoan, Minahasa, harapan tentang Indonesia masa depan yang tangguh mulai dirajut pelan-pelan.
Di bawah naungan atap tenda pramuka. Dan di bawah tatapan hangat para penjaga negeri. (nes)

Saat ini belum ada komentar