Mantan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu Tutup Usia
- account_circle Norman Meoko
- calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
- visibility 30
- comment 0 komentar
- print Cetak

Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu semasa menjabat Menteri Pertahanan.(Foto:Dok/AFP)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, INTANA.NEWS – Menteri Pertahanan masa bakti 2014-2019, Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta pada Minggu (31/5/2026) siang sekitar pukul 14.03 WIB.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait membenarkan kabar tersebut.
Dia menambahkan, hingga kini jenazah Ryamizard masih berada di rumah sakit.”Almarhum meninggal dunia dalam usia 76 tahun,” katanya.
Dikutip dari wikipedia.org, Ryamizard merupakan politikus Indonesia yang pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan pada Kabinet Kerja yang dipimpin Joko Widodo pada 27 Oktober 2014 hingga 20 Oktober 2019.
Ia juga pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat dari tahun 2002 hingga 2005.
Ryamizard adalah putra dari Musannif Ryacudu, seorang perwira TNI AD yang dekat dengan Soekarno. Dia menikah dengan Nora Tristyana, putri dari Try Sutrisno dan juga merupakan abang dari Syamsurya Ryacudu.
Ryamizard lulus dari Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dan melakukan pendidikan Sekolah Khusus Calon Perwira dari tahun 1985 hingga 1986. Lima tahun kemudian, dia melanjutkan pendidikan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat pada tahun 1991.
Ia mulai dikenal secara luas setelah menjabat sebagai Pangdam V/Brawijaya, yang kemudian diteruskan menjadi Pangdam Jaya.
Saat terjadinya gesekan elit nasional pada masa presiden Gus Dur, Ryamizard yang saat itu menjabat Pangdam Jaya mengancam siapa saja yang akan mengganggu keamanan di wilayahnya.
Selepas dari Kodam Jaya, Ryamizard mendapat promosi bintang tiga sebagai Panglima Kostrad menggantikan Letjen TNI Agus Wirahadikusumah.
Kemampuannya merangkul semua unsur TNI saat apel siaga di Lapangan Monas yang melibatkan unsur TNI AL dan TNI AU Juli 2001 menarik KSAD untuk menunjuknya sebagai Wakil KSAD dan kemudian menggantikan Endriartono Sutarto sebagai KSAD.
Ia pernah dicalonkan di akhir masa jabatan presiden Megawati sebagai Panglima TNI. Namun pada saat pergantian presiden dari Megawati ke SBY namanya dianulir, nama Marsekal Djoko Suyanto yang akhirnya dipilih sebagai Panglima TNI pada tahun 2006, karena namanya dianulir oleh SBY.
Ryamizard dianggap sebagai “orang Megawati”. Pencalonannya sebagai Panglima TNI dibatalkan oleh SBY dengan memperpanjang jabatan Endriartono Sutarto, sehingga menimbulkan kecurigaan konflik pribadi antara SBY dan Ryamizard, seperti yang diungkapkan oleh Abdurrahman Wahid.
Setelah akhirnya pensiun dari militer, ia mengaku tidak ingin masuk ke dunia politik, tetapi pada tahun 2008, saat ikut dalam deklarasi Majelis Kebangsaan Indonesia, ia sempat menyatakan mempertimbangkan menjadi Calon Presiden bila mendapat dukungan.
Pada 27 Januari 2009, ia diundang ke Rakernas PDI Perjuangan menggantikan Hidayat Nur Wahid yang tidak jadi diundang, sehingga memunculkan namanya sebagai salah satu cawapres Megawati.
Namanya sempat diisukan sebagai salah satu calon wakil presiden Joko Widodo, walaupun akhirnya Jusuf Kalla yang terpilih. Ia lalu mendeklarasikan dukungan kepada pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla dan terlibat dalam pembekalan relawan selama kampanye Pilpres. Ryamizard Ryacudu kemudian ditunjuk menjadi Menteri Pertahanan dalam Kabinet Kerja.(*)
- Penulis: Norman Meoko
