Aksi Kemanusiaan 1 Juni di Tonsea Lama: Setetes Darah, Hidupkan Nilai Pancasila
- account_circle Anes Walean
- calendar_month Senin, 1 Jun 2026
- visibility 13
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MINAHASA, INTANA.NEWS – Senin pagi di awal Juni 2026, suasana di kompleks Tsunagu Japan Indonesia, Tonsealama, tampak lebih cerah dari biasanya.
Tanggal satu Juni selalu diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila. Namun, Pancasila di sini hadir dalam bentuk yang paling murni: setetes darah untuk sesama.
Sejak pagi, puluhan pemuda dan warga sekitar mulai berdatangan.
Mereka mengantre dengan sabar di ruang tunggu, bersiap untuk mendonorkan darah mereka.
Sebagian besar adalah siswa-siswi lembaga pelatihan kerja Tsunagu Indonesia, yang meski masih muda, sudah memahami arti penting sebuah kepedulian.
Aksi kemanusiaan ini lahir dari sebuah kerja besar. Gotong royong modern yang mempertemukan berbagai elemen: Polres Minahasa, GAMKI Sulawesi Utara, PMI Minahasa, Klinik GMIM Lydia, dan Tsunagu Japan Indonesia sendiri.
Kehadiran lintas lembaga ini seolah menjadi simbol hidup dari burung Garuda, berbeda-beda, tetapi bergerak untuk satu tujuan kemanusiaan.
Bagi warga Tonsealama, kehadiran pos donor darah di desa mereka adalah sebuah berkah kecil.
”Banyak warga merasa terbantu dengan adanya donor darah seperti ini, terutama karena tidak semua orang memiliki waktu untuk datang langsung ke rumah sakit,” ujar Liony Leontin Mongi, SE., Direktur Tsunagu Indonesia, sembari memperhatikan jalannya kegiatan.
Tercatat sekitar 30 kantong darah berhasil dikumpulkan. Jumlah yang mungkin terlihat sederhana, namun di dalam dunia medis, puluhan kantong itu sangat berarti bagi pasien yang membutuhkan.
Secara tidak langsung, kegiatan ini juga mengedukasi warga bahwa mendonorkan darah secara berkala justru menyegarkan tubuh si pendonor melalui regenerasi sel darah merah.
Saat matahari mulai meninggi, satu per satu pendonor pulang dengan lengan yang ditempeli plester kecil dan senyum tipis di wajah.
Di sudut Tonsealama hari itu, Liony Mongi bersama para mitra kerja telah membuktikan satu hal.
Pancasila tidak pernah menjadi ideologi yang mati.
Ia tetap hidup, berdenyut, dan mengalir hangat di dalam pembuluh darah orang-orang yang peduli pada sesamanya. (nes)
- Penulis: Anes Walean
