Mengintip Pesta Demokrasi di Desa Kamangta, Visi dan Misi Boleh Beda Tetapi Ingat Torang Samua Basudara
- account_circle Norman Meoko
- calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
- visibility 45
- comment 0 komentar
- print Cetak

Empat kandidat calon Hukum Tua Desa Kamangta, Kabupaten Minahasa berfoto bersama Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kabupaten Minahasa Daudson Rombon (keempat dari kiri) serta Sekretaris Kecamatan Tombulu Oktavianus R. Tewu (enam dari kanan) panelis pemaparan visi dan misi di Balai Desa Kamangta, Kamis (11/6/2026).(Foto: intana.news/Norman Meoko)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KAMANGTA, INTANA.NEWS – Siapa bilang pesta demokrasi cuma milik orang kota?
Buktinya mencuat pada Kamis (11/6/2026) di Desa Kamangta, Kecamatan Tombulu, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.
Ya, pagi ini desa yang berpenduduk 2.028 jiwa dengan luas wilayah 506,28 hektare itu menggelar pemaparan visi dan misi empat kandidat calon hukum tua untuk masa jabatan delapan tahun ke depan.
Hajatan itu digelar di Balai Desa Kamangta.
Ternyata antusisme warga luar biasa. Acara yang dimulai pukul 09.00 Waktu Indonesia Tengah (WITA). Tetapi warga sejak pagi sudah datang ke Balai Desa Kamangta.
Padahal beberapa kepala jaga yang menjadi panitia pemilihan hukum tua 2026 masih sibuk mengatur persiapan pemaparan visi dan misi kandidat. Ada yang sibuk memasang sound system termasuk speaker untuk menyukseskan acara tersebut.
Salah satunya Tante Lin yang datang membawa payung.”Saya ingin mendengar visi dan misi calon hukum tua Desa Kamangta,” tuturnya.
Hal itu juga disampaikan Om Charles Paath. Seperti halnya Tante Lin, mantan Kepala SD Inpres di Desa Kamangta itu pun ingin menyaksikan langsung sekaligus mendengar visi dan misi kandidat.
“Kalau so dengar langsung. Soal pilih yang mana sudah terbayang,” ia menambahkan.
Pukul 9.00 WITA tepat pemaparan visi dan misi pun dimulai. Tidak lupa sepenggal doa dipanjatkan agar kegiatan ini berlangsung lancar.

Ada empat kandidat calon Hukum Tua Desa Kamangta periode 2026 hingga 2034. Keempat kandidat itu yakni nomor urut satu Laurens R. Mandagie disusul nomor urut dua Nova A. Worotikan, lalu nomor urut tiga Jefferson Rorong dan nomor urut empat Teddy Boudewyn Wewengkang.
Memang tidak ada debat antarkandidat. Penyampaian visi dan misi ini menghadirkan dua panelis yakni Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kabupaten Minahasa Daudson Rombon serta Sekretaris Kecamatan Tombulu Oktavianus R. Tewu.
Hampir semua kandidat menyampaikan visi dan misi yang rada-rada mirip. Tetapi ada beberapa kandidat yang lebih spesifik. Mereka dikasih Waktu 10 menit untuk memaparkan visi dan misinya.
Sesuai nomor maka Laurens R. Mandagie mendapat giliran pertama untuk memaparkan visi dan misi.
“Saya ingin agar Desa Kamangta menjadi desa yang mandiri. Aparat desa harus melayani masyarakat dengan tulus. Selain itu, meningkatkan kesejahteraan masyarakat juga hal yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Saya juga akan memberdayakan badan usaha desa,” tuturnya.
Ada yang menarik dari kandidat yang satu ini. Di akhir penyampaian visi dan misinya, Laurens R. Mandagie dengan suara lantang mengatakan: “Saya tidak akan mengambil gaji saya jika terpilih menjadi Hukum Tua Desa Kamangta. Itu untuk masyarakat.”
Sontak saja hal itu mendapat tepuk tangan dari pendukung nomor urut satu ini.
Lain lagi dengan kandidat nomor urut 2 yakni Nova R. Worotikan. Secara detail dan sistematis, Srikandi Desa Kamangta ini memaparkan visi dan misinya. Dia menyebut 10 progam unggulan seandainya terpilih menjadi Hukum Tua.
Dari 10 program unggulan itu di antaranya soal akses air bersih. Lalu pembenahan lingkungan yang bersih dan sehat. Kemudian mengenai peningkatan sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan.
“Saya juga ingin agar pelayanan publik lebih cepat, ramah dan tepat sasaran. Kantor desa harus menjadi pusat pelayanan bagi masyarakat Desa Kamangta. Partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan untuk mendukung hal itu,” tuturnya.
Kandidat nomor urut 3 yaitu Jefferson Rorong dalam pemaparan visi dan misinya lebih menekankan kepada sejumlah hal. Di antaranya dirinya ingin menciptakan tata kelola pemerintahan yang bersih. Jauh dari tindakan korupsi.
“Bagaimana jadinya Desa Kamangta jika ada korupsi,” katanya.
Mantan Kapolsek Tombulu ini ingin mengaungkan kembali mapalus di Desa Kamangta.
Mapalus adalah budaya gotong royong dan tolong-menolong tradisional dari Suku Minahasa di Sulawesi Utara. Sistem ini mengedepankan kerja sama kelompok secara sukarela untuk mencapai tujuan bersama seperti bertani, membangun rumah atau membantu acara duka.
Sedangkan kandidat nomor urut 4 yakni Teddy Boudewyn Wewengkang. Dalam visinya dia ingin menjadikan Desa Kamangta yang berkualitas baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam.
Sementara misinya yakni membangun Desa Kamangta dengan berkeadilan. Selain itu, dirinya bertekad melayani masyarakat Desa Kamangta dengan prinsip keadilan sosial serta membina generasi muda untuk menjadi generasi muda yang siap bersaing secara keahlian.
Ada yang berbeda dengan tiga kandidat lainnya, Teddy ingin agar di Desa Kamangta ada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).”Saya sudah bicara dengan Wagub Pak Victor Malangkay untuk mendirikan SMK tersebut. Ini sangat penting sebagai bagian peningkatan kualitas sumber daya manusia di Desa Kamangta,” dia menambahkan.
Hari sudah semakin tinggi. Sebentar lagi siang menjelang. Pemaparan visi dan misi kandidat calon Hukum Tua Desa Kamangta sebentar lagi berakhir.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kabupaten Minahasa Daudson Rombon yang bertindak menjadi salah satu panelis di ujung gelaran pemaparan visi dan misi dengan suara lantang mengingatkan agar para kandidat harus siap kalah.
“Kandidat harus siap menang dan juga siap kalah. Saya minta yang kalah jangan malah menjadi provokator. Sekali lagi saya ingatkan kandidat harus siap menang dan siap kalah juga. Kandidat harus punya kerendahan hati,” katanya.
Pernyataan Daudson Rombon benar. Karena bagaimana pun juga hasilnya nanti saat pencoblosan tanggal 17 Juni 2026, Torang Samua Basudara.
Ya, filosofi hidup masyarakat Minahasa yang menegaskan bahwa nilai kesetaraan, kebersamaan dan kerukunan tanpa memandang perbedaan suku, agama maupun golongan. Ingat ini semboyan pemersatu yang mencakup pilar penting dalam kehidupan bermasyarakat.(nor)
- Penulis: Norman Meoko
