Dari Kejawen hingga Malesung, Keberagaman Keyakinan Bersatu dalam Dialog Lintas Iman di Minahasa
- account_circle Anes Walean
- calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oplus_131072
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MINAHASA, INTANA.NEWS – Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia Dewan Musyawarah Wilayah Provinsi Sulawesi Utara (MLKI DMW Sulut) menggelar perayaan Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan yang berlangsung meriah namun khidmat di kompleks Waruga Lotta, Pineleng, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Senin (13/7/2026).
Acara yang mengusung tema Se Matua Se Makukung, Se Puyun Se Makihit (Leluhur sebagai pelindung, keturunannya mencontoh) ini menjadi ajang dialog lintas budaya dan keyakinan bagi para penghayat kepercayaan serta penganut agama asli Indonesia.
Perayaan diawali dengan upacara tradisi Malesung Minahasa yang dipimpin oleh Walian Rinto Taroreh, penggerak komunitas penghayat Kanaramen, dengan iringan musik dari Pinaesaan Ne Kawasaran.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan tembang Mocopat oleh komunitas penghayat Kejawen serta diskusi lintas iman.
Kegiatan ini mempertemukan berbagai kelompok penghayat dan organisasi kemasyarakatan, di antaranya komunitas Adat Musi dari Kabupaten Talaud, komunitas Kejawen, serta komunitas lokal seperti Kanaramen dan Lalang Rondor Malesung (LAROMA).
Selain penganut agama asli, acara ini juga dihadiri oleh perwakilan berbagai elemen masyarakat, termasuk Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulut, Koalisi Advokasi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) Sulut, LBH Manado, Mawale Movement, PMII Manado, perwakilan komunitas Baha’i, BEM Unima, hingga BPAN Tomohon.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara turut memberikan apresiasi melalui kehadiran perwakilan Dinas Kebudayaan Sulut, Ivan Besou (Kepala Bidang Cagar Budaya, Sejarah, dan Tradisi Permuseuman), serta perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Sulut, Wenny Wuysan.
Perayaan ini menjadi simbol pengakuan terhadap keberagaman keyakinan di tanah air, sekaligus upaya pelestarian nilai-nilai luhur budaya Indonesia melalui ruang dialog yang inklusif. (*)
- Penulis: Anes Walean
