Bekali Siswa Baru dengan Literasi, Ketua PWI Minahasa Ajarkan Dasar Jurnalistik di SMPN 1 Tondano
- account_circle Anes Walean
- calendar_month Jumat, 17 Jul 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oplus_131072
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TONDANO, INTANA.NEWS – Menghadapi era informasi yang kian masif, pengenalan terhadap dunia jurnalistik sejak dini menjadi penting.
Guna membekali siswa baru dengan kemampuan literasi dan etika berkomunikasi, SMP Negeri 1 Tondano menggelar pelatihan dasar-dasar jurnalistik dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Aula SMPN 1 Tondano, Kabupaten Minahasa.

Siswa SMPN 1 Tondano mempraktikkan cara wawancara soal MPLS. (Foto: intana.news)
Kegiatan ini menghadirkan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Minahasa, Nixen Veidy Temo, yang memberikan pembekalan mendalam mengenai profesi wartawan, teknik penulisan, hingga etika bermedia sosial bagi para siswa.
Kepala Sekolah SMPN 1 Tondano, Melky Palilingan, M.Pd., mengatakan, literasi media adalah keterampilan hidup yang wajib dimiliki oleh generasi Z di sekolah.

Kepala SMPN 1 Tondano Melky Palilingan saat memberikan sambutan. (Foto:intana.news)
“Kami ingin siswa tidak hanya sekadar menjadi penikmat informasi, tetapi mampu menjadi penyaring informasi yang cerdas. Melalui pelatihan ini, siswa diajarkan bagaimana menulis hal-hal positif tentang sekolah dan lingkungan mereka dengan kaidah yang benar, serta menanamkan sikap anti-hoaks sejak dini,” ujar Melky Palilingan.
Dalam paparannya, Nixen Veidy Temo menekankan bahwa wartawan adalah profesi mulia yang harus berpijak pada etika.

Foto bersama seusai kegiatan. (Foto: intana.news)
Ia mengajak siswa untuk memahami bahwa jurnalistik adalah proses mengumpulkan, mengelola, dan menyebarkan informasi kepada masyarakat secara objektif.
Bagi siswa pemula, Nixen mengenalkan teknik dasar penulisan berita melalui rumus 5W+1H (Who, What, Where, When, Why, How).
“Ini adalah kunci utama dalam menyampaikan informasi. Setiap berita harus memuat siapa yang terlibat, apa yang terjadi, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana peristiwa itu berlangsung,” jelas Nixen.
Ia juga menekankan pentingnya memilih nilai berita yang berdampak besar bagi publik.
Siswa diajak untuk peka terhadap peristiwa aktual di sekitar mereka, seperti prestasi siswa dalam O2SN atau kegiatan seni kolintang di sekolah, yang layak diangkat menjadi berita inspiratif. (nes)
- Penulis: Anes Walean
