Estafet di Amongena Tiga: Saat Nico Wurangian Memilih Menuntaskan daripada Bertahan
- account_circle Anes Walean
- calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Nico Wurangian, Hukum Tua Desa Amongena Tiga, menuntaskan proyek paving block yang menjadi capaian akhir masa jabatannya.(Foto: intana.news)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MINAHASA, INTANA.NEWS – Di Desa Amongena Tiga, Langowan Timur, Minahasa, ada pemandangan yang memberikan pelajaran berharga akhir pekan ini.
Bukan tentang hiruk-pikuk politik desa jelang pelantikan kepala desa baru. Melainkan tentang sebuah papan proyek yang terpampang di pinggir jalan.
Papan itu mengabarkan soal pembangunan jalan paving block dengan anggaran Rp 140.418.000 dari Dana Desa 2026.
Tapi, bagi Nico Wurangian, papan proyek itu punya makna yang lebih dalam. Itu adalah dedikasi terakhir yang ia tinggalkan sebelum menanggalkan jabatannya.
Nico adalah Hukum Tua, sebutan untuk kepala desa di Minahasa, yang masa jabatannya sudah akan berakhir.
Selasa lusa, 14 Juli 2026, ia akan menyerahkan tongkat estafet kepada Jueen Hana Monangin, sang pemenang pemilihan kepala desa yang baru.
“Saya tidak maju lagi,” ujar Nico pendek saat saya mengobrol dengannya.
Keputusannya bulat. Tidak ada upaya untuk bertahan.
Baginya, menjadi pemimpin desa adalah tentang pengabdian, bukan soal berapa lama bisa menduduki kursi jabatan. Ia ingin menutup bukunya dengan catatan yang rapi.
Pekerjaan jalan paving block sepanjang 80 meter itu dikebut. Tujuh hari kalender. Harus selesai tepat sebelum ia turun takhta.
Bagi Nico, membangun jalan ini bukan sekadar menghabiskan anggaran. Ini adalah pesan perpisahan yang nyata.
Ia ingin memastikan bahwa saat ia keluar dari kantor desa nanti, masyarakat tidak hanya akan mengingat namanya, tetapi juga merasakan manfaat dari apa yang pernah ia kerjakan.
“Saya bersyukur bisa mengakhiri masa jabatan ini dengan menuntaskan program pembangunan. Semoga infrastruktur ini dirawat dan bermanfaat untuk warga,” kata Nico dengan nada tenang.
Tidak ada kesan beban. Tidak ada raut kecewa. Yang ada justru kelegaan.
Nico sadar betul bahwa roda kepemimpinan harus terus berputar. Setelah Selasa nanti, ia kembali menjadi warga biasa.
Mungkin ia akan lebih sering duduk di teras rumah, menikmati jalan yang baru ia bangun bersama warganya.
Begitulah cara Nico Wurangian pamit. Tanpa pidato yang berapi-api. Tanpa seremoni yang berlebihan.
Ia membiarkan paving block itu menjadi saksi bisu bahwa di Desa Amongena Tiga, pernah ada seorang pemimpin yang memilih untuk menyudahi tugasnya dengan elegan: menuntaskan pekerjaan, lalu pulang dengan kepala tegak. (nes)
- Penulis: Anes Walean
