Isu ‘Reshuffle’ Kabinet Menguat, Jumhur Hidayat Bakal Menjadi Menteri di Kabinet Prabowo-Gibran
- account_circle Norman Meoko
- calendar_month Senin, 27 Apr 2026
- visibility 21
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia), Mohammad Jumhur Hidayat.(Foto:Dok/Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, INTANA.NEWS – Isu reshuffle atau perombakan kabinet kembali mencuat.
Kabar yang beredar menyebutkan, Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Mohammad Jumhur Hidayat bakal menjadi menteri dalam Kabinet Merah Putih.
Jumhur membenarkan hal itu di Jakarta pada Senin (27/4/2026).”Iya benar (akan dilantik presiden jadi menteri),” katanya singkat.
Namun mantan Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja (BNP2TKI) itu belum tahu bakal menduduki posisi apa dalam Kabinet Merah Putih tersebut.
Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea mengaku sudah mendengar kabar Jumhur bakal masuk dalam kabinet Prabowo-Gibran sejak pekan lalu.
“Saya sudah mendengar ada rencana tokoh buruh masuk kabinet sejak pekan lalu. Masuknya Jumhur menjadi representasi kalangan buruh,” katanya.
Dia hanya berpesan kepada Jumhur jika masuk dalam Kabinet Merah Putih tidak meninggalkan ideologi dan semangat buruh yang selama ini dia perjuangkan.
Siapa Mohammad Jumhur Hidayat?
Jumhur lahir 18 Februari 1968. Dia dikenal sebagai aktivis pergerakan dan pemberdayaan rakyat yang pernah menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI yang diangkat pada tanggal 11 Januari 2007 tetapi kemudian diberhentikan pada tanggal 11 Maret 2014 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Pemberhentian Jumhur sebagai Kepala BNP2TKI tersebut menyusul keputusannya menyalurkan aspirasinya ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang saat itu mengkampanyekan ingin melaksanakan ajaran Trisakti Bung Karno yaitu Berdaulat dalam Politik, Berdikari dalam Ekonomi dan Berkepribadian dalam Kebudayaan.
Dalam Pemilu Presiden 2014, Jumhur termasuk relawan Jokowi sebagai Koordinator Aliansi Rakyat Merdeka (ARM). Namun karena menganggap penerapan Trisakti Bung Karno oleh Pemerintah Joko Widodo itu jauh panggang dari api atau menyimpang jauh dari sejatinya ajaran itu maka Jumhur memilih tidak aktif dalam kegiatan dukung mendukung dan lebih berkonsentrasi pada dunia bisnis.
Jumhur sudah menjadi aktivis sejak Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) dan pernah dipenjara pada tahun 1989-1992 karena terlibat dalam aksi mahasiswa yang menolak kedatangan Menteri Dalam Negeri, Rudini.
Ia ditangkap bersama beberapa teman di antaranya Fadjroel Rachman, Arnold Purba, Supriyanto alias Enin, Amarsyah, Bambang Sugiyanto Lasijanto, Lendo Novo, A.Sobur, Wijaya Santosa, Adi SR, dan Dwito Hermanadi.
Walau pernah terlibat dalam kegiatan real politik, sebenarnya Jumhur lebih tepat disebut aktivis yang berkecimpung di dunia gerakan pemberdayaan rakyat.
Saat ini Jumhur Hidayat terpilih menjadi Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPSI) hasil Kongres ke-10 pada tanggal 16 Februari 2022 Periode 2022-2027.
Adapun aktivitas politiknya dimulai saat bergabung dengan Partai Daulat Rakyat yang dalam pemilu 1999 mendapatkan 1 (satu) kursi DPR. Jumhur menjadi Sekretaris Jenderal di Partai Daulat Rakyat.
Pada Saat Partai Daulat Rakyat bergabung dengan 7 (tujuh) partai politk (Partai Persatuan, Partai Syarikat Islam Indonesia, Partai Katolik Demokrat, Partai Bhineka Tunggal Ika, PNI Front Marhaenis, PNI Massa Marhaenis, Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia) menjadi Partai Sarikat Indonesia yang dideklarasikan di Surabaya pada tanggal 17 Desember 2002, Jumhur menduduki Jabatan sebagai Sekretaris Jenderal.
Setelah gagal lagi dalam Pemilu Legislatif 2004 Jumhur meninggalkan kegiatan politiknya dan kembali aktif di dunia pergerakan termasuk gerakan buruh/pekerja melalui Gaspermindo (Gabungan Serikat Pekerja Merdeka Indonesia) yang didirikannya pada tahun 1998.(*)
- Penulis: Norman Meoko
