TMMD Dikebut, Jembatan Lompad Lama Capai 59 Persen
- account_circle Anes Walean
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MINAHASA SELATAN, INTANA.NEWS – Program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) di Kabupaten Minahasa Selatan terus menunjukkan kemajuan.
Sasaran fisik utama, Jembatan Perintis Garuda di Desa Lompad Lama, kini mencapai progres 59,15 persen.
Infrastruktur ini menjadi tumpuan harapan bagi mobilitas warga Kecamatan Ranoyapo.
Jumat (15/5/2026), pengerjaan difokuskan pada pengecoran tiang pylon. Struktur ini merupakan komponen inti untuk menopang jembatan sepanjang 50 meter tersebut.
Sertu Novi, Babinsa dari Kodim 1302/Minahasa, terjun langsung mengawal teknis pengerjaan di tepi Sungai Ranoyapo.
Secara fungsional, jembatan dengan lebar 1,2 meter ini dirancang untuk memutus isolasi wilayah.
Selama ini, akses transportasi warga sering terhambat oleh bentang sungai yang lebar. Melalui TMMD, pemerintah daerah dan TNI berkolaborasi mengatasi kendala infrastruktur tersebut secara efisien.
Bupati Minahasa Selatan menegaskan bahwa TMMD adalah solusi nyata pembangunan di daerah pinggiran.
“Program ini bukan sekadar urusan semen dan beton. Ini adalah gotong royong untuk meningkatkan taraf hidup di desa,” ungkapnya saat meninjau perkembangan proyek.
Kehadiran personel TNI di lapangan memberikan dampak ganda.
Selain mempercepat konstruksi, kehadiran mereka membangkitkan kembali semangat swadaya warga.
Hal ini terlihat dari antusiasme masyarakat desa yang ikut membantu distribusi material bangunan di lokasi.
Meski medan di bantaran sungai cukup menantang, Satgas TMMD memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai standar teknis.
Hingga saat ini, tidak ada kendala berarti yang menghambat jalannya pengerjaan fisik di lapangan.
Targetnya, jembatan ini sudah bisa digunakan sebelum penutupan program TMMD secara resmi.
Jika sudah beroperasi, jalur distribusi hasil tani masyarakat Ranoyapo akan jauh lebih aman.
Infrastruktur ini diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi baru bagi warga Minahasa Selatan. (*)
- Penulis: Anes Walean
