Kunjungan UAS ke Kotamobagu: LSM Waraney Puser In’Tana Rilis Pernyataan Sikap
- account_circle Anes Walean
- calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
- visibility 18
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MANADO, INTANA.NEWS – Rencana dakwah Ustaz Abdul Somad (UAS) di Kotamobagu memicu respons elemen masyarakat adat.
Dewan Pengurus Besar (DPB) LSM Adat Waraney Puser In’Tana Toar Lumimuut (WPITL) Sulawesi Utara merilis pernyataan sikap resmi.
Mereka fokus menjaga kerukunan umat beragama di Bumi Nyiur Melambai.
Pernyataan tersebut terbit di Manado Sabtu, 23 Mei 2026.
Penandatangan surat adalah Ketua Umum John F. S. Pandeirot. Sekretaris Jenderal Michael M. Worang juga ikut membubuhkan tanda tangan.
Dokumen itu memuat lima poin penting terkait situasi keamanan wilayah.
Mengapa LSM Adat Mengeluarkan Pernyataan Sikap?
LSM Waraney menilai Sulawesi Utara merupakan laboratorium kerukunan umat beragama yang sangat bernilai.
Wilayah Bolaang Mongondow Raya memiliki sejarah keberagaman yang damai.
Oleh karena itu, masyarakat adat wajib menjaga kelestarian moral setempat.
Pihak LSM ingin mengantisipasi potensi gesekan sosial akibat narasi ceramah.
Mereka memegang teguh falsafah lokal Sitou Timou Tumou Tou.
Falsafah tersebut mengandung prinsip hidup untuk saling memanusiakan manusia.
Maka dari itu, organisasi tersebut menolak keras segala bentuk intoleransi.
Narasi yang mendiskreditkan keyakinan lain dapat merusak tatanan sosial.
Komitmen terhadap Pancasila dan NKRI menjadi dasar utama gerakan ini.
Bagaimana Langkah Pengawasan yang Mereka Desak?
”Kami meminta panitia dan UAS menjaga lisan saat berdakwah,” ujar pengurus dalam rilisnya.
LSM Waraney mendesak Pemerintah Kota Kotamobagu mengambil langkah strategis. Mereka juga meminta aparat Kepolisian dan TNI bergerak aktif.
Pihak keamanan harus melakukan pengawasan secara ketat selama acara berlangsung.
Selanjutnya, aparat wajib mengambil tindakan hukum yang tegas di tempat.
Polisi harus menghentikan acara jika muncul ujaran kebencian. Penistaan terhadap simbol agama lain menjadi batas toleransi terakhir.
Terakhir, organisasi mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk tetap tenang.
Warga tidak boleh terprovokasi oleh isu yang beredar. Namun, masyarakat harus tetap waspada mengawal kedamaian tanah leluhur.
Ada yang menarik dari dinamika sosial di Sulawesi Utara. Daerah ini terkenal sangat toleran. Namun, kewaspadaan masyarakat adat tetap tinggi.
Mengapa? Karena mereka mencintai perdamaian yang telah terbangun lama.
Tentu kita paham posisi UAS sebagai penceramah kondang. Jamaah beliau banyak di berbagai daerah.
Kedatangan seorang tokoh besar selalu membawa dampak bagi publik. Oleh sebab itu, antisipasi dini menjadi pilihan bijak organisasi adat.
Langkah preventif ini justru menunjukkan kedewasaan berorganisasi.
Mereka tidak menolak secara membabi buta. Sebaliknya, mereka menawarkan panduan etis demi kebaikan bersama.
Kebebasan beragama tetap berjalan beriringan dengan penghormatan adat.
Berikut adalah susunan pimpinan DPB LSM Adat Waraney Puser In’Tana:
Jabatan Nama Pejabat
Ketua Umum John F. S. Pandeirot
Sekretaris Jenderal Michael M. Worang, SE.
Bendahara Umum Winsy H. Lolowang, SH.
Panglima Besar Stefan Obadja Voges, SH., MH.
- Penulis: Anes Walean
