Babinsa Koramil 1302-17/Motoling Kebut Pembangunan Jembatan Ranoyapo
- account_circle Anes Walean
- calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
- visibility 11
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MINSEL, INTANA.NEWS — Angkanya sangat presisi: 70,31 persen.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya deretan angka di atas kertas laporan fisik.
Namun, bagi masyarakat Desa Lompad Lama, Kecamatan Ranoyapo, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), angka tersebut adalah sebuah harapan yang sebentar lagi berwujud nyata.
Itulah progres fisik pembangunan Jembatan Perintis Garuda hingga Sabtu siang (27/6/2026).
Sebuah infrastruktur desa yang dirancang bukan untuk gagah-gagahan, melainkan untuk menyambung kembali urat nadi kehidupan warga yang selama ini tersendat.
Jembatan ini sebenarnya tidak besar. Panjangnya 50 meter dengan lebar hanya 1,2 meter.
Untuk ukuran kendaraan roda empat, jembatan gantung ini jelas tidak bisa dilewati.
Namun, bagi mobilitas warga, sepeda motor, dan angkutan hasil bumi, jembatan inilah penyambung ekonomi yang sesungguhnya.
Di lokasi proyek, sebuah pemandangan menarik terlihat tepat pukul 11.03 WITA. Cuaca sedang cerah-Cerah nya, seolah merestui pekerjaan berat hari itu.
Di tengah aliran Sungai Ranoyapo yang berbatu, tampak Sertu Novi. Ia adalah Bintara Pembina Desa (Babinsa) dari Koramil 1302-17/Motoling.
Tugas Babinsa di lokasi ini bukan sekadar berdiri, menunjuk, atau mengawasi dengan tangan di pinggang. Sertu Novi ikut turun ke air.
Ia larut dalam ritme kerja warga, memilah batu-batu sungai untuk pondasi dan memastikan tiang blok angkur di tepi jembatan tertanam dengan kokoh.
Dalam kacamata pembangunan daerah, Kodim 1302/Minahasa tampaknya paham betul bahwa ketahanan suatu wilayah dimulai dari kelancaran urusan perut dan ekonomi warganya.
Bagaimana warga bisa produktif jika untuk menyeberang sungai saja harus bertaruh nyawa atau memutar arah hingga belasan kilometer?
Kehadiran personel TNI di lokasi menjadi krusial untuk menjaga momentum.
Ini bukan lagi sekadar proyek fisik dinas pekerjaan umum, melainkan sebuah kerja gotong royong yang dikejar target harian.
Ada komitmen emosional untuk memastikan setiap tahapan, mulai dari pengumpulan batu hingga kekuatan angkur penahan jembatan, berjalan aman.
Sore nanti, pondasi angkur di sisi tepi sungai dipastikan berdiri lebih gagah. Jika tren positif dan cuaca bersahabat ini terus terjaga, tidak lama lagi jembatan ini akan rampung total.
Ketika Jembatan Perintis Garuda ini selesai, wajah Kecamatan Ranoyapo akan berubah. Akses yang aman akan memangkas waktu tempuh anak-anak sekolah, petani yang membawa hasil kebun, hingga urusan logistik desa.
Sertu Novi menyeka keringatnya siang itu. Pekerjaan hari ini berjalan sesuai target, tetapi pengawalan belum selesai.
Sampai jembatan itu benar-benar bisa diinjak oleh kaki-kaki warga dengan aman, baju loreng TNI tampaknya masih akan terus basah di tepi Sungai Ranoyapo. (*)
- Penulis: Anes Walean
