Peringatan ke-33 Harganas, Sekda Minahasa Lynda Watania: Jangan Biarkan Meja Makan Sunyi akibat Gawai
- account_circle Anes Walean
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 12
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MINAHASA, INTANA.NEWS — Peringatan ke-33 Hari Keluarga Nasional (Harganas) di Kabupaten Minahasa menjadi momen penting untuk memperkuat kembali ketahanan keluarga di tengah era digital.
Upacara yang berlangsung di halaman Kantor Bupati Minahasa, Senin (29/6/2026) ini menjadi ajakan bagi para orang tua untuk menjaga anak-anak dari dampak negatif ketergantungan teknologi.

Sekda Minahasa Dr Lynda D Watania M.M M.Si. (Foto: intana.news)
Sekretaris Daerah (Sekda) Minahasa, Dr. Lynda D. Watania, M.M., M.Si., saat membacakan sambutan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN menegaskan, renggangnya hubungan keluarga saat ini sering kali dipicu oleh penggunaan gawai yang tidak terkontrol di dalam rumah.
”Hari ini bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan momen penting untuk berefleksi. Sudahkah keluarga kita menjadi tempat yang aman, nyaman, dan mampu mendidik generasi masa depan yang tangguh?” ujar Sekda Lynda di hadapan jajaran Forkopimda dan para camat se-Kabupaten Minahasa.

Dalam sambutan tersebut, Sekda menggarisbawahi fenomena fatherless, yaitu kondisi ketika sosok ayah hadir secara fisik di rumah, namun absen secara psikologis dalam pengasuhan anak.
Kekosongan komunikasi antara orang tua dan anak ini akhirnya kerap digantikan oleh gawai.
Dampaknya pun sangat nyata. Ketika rumah kehilangan kehangatan, anak-anak cenderung mencari pelarian di luar, yang berpotensi memicu masalah sosial seperti tawuran, perundungan (bullying), pergaulan bebas, hingga jeratan narkoba.
“Jangan biarkan meja makan sunyi karena semua sibuk menatap layar. Wahai para ayah, letakkan gawai Anda saat di rumah, peluk anak-anakmu, ajak mereka berdialog, dan batasi waktu bermain gawai,” tegasnya.
Untuk menghadapi tantangan bonus demografi agar tidak menjadi beban sosial akibat tingginya angka pengangguran, pemerintah mengingatkan pentingnya memperkuat tiga pilar utama pembangunan keluarga dari rumah.
Pilar pertama adalah kesehatan fisik, yang diwujudkan dengan menuntaskan masalah stunting melalui pemenuhan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan agar anak-anak tumbuh sehat dan kompetitif di masa depan.
Selanjutnya, pilar kedua menitikberatkan pada pendidikan karakter, di mana rumah menjadi tempat utama untuk menanamkan nilai integritas, kejujuran, dan kedisiplinan.
Sementara pilar ketiga adalah ketahanan mental, dengan menempatkan orang tua sebagai pendamping emosional yang stabil demi membentuk kepribadian anak yang kokoh. (nes)
- Penulis: Anes Walean
