Pembangunan Jembatan Perintis Garuda Ranoyapo Capai 70,36 Persen
- account_circle Anes Walean
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MINSEL, INTANA.NEWS – Panjangnya 50 meter. Tapi lebarnya hanya 1,2 meter. Itulah Jembatan Perintis Garuda.
Letaknya di Desa Lompad Lama, Kecamatan Ranoyapo, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel).
Bagi orang kota, lebar 1,2 meter mungkin tidak ada artinya. Mobil jelas tidak bisa lewat. Tapi bagi warga Lompad Lama, jembatan yang membentang di atas Sungai Ranoyapo ini adalah urat nadi.
Kalau jembatan ini rampung, ekonomi bergerak. Akses warga tak lagi tersendat.
Hari Sabtu, 4 Juli 2026, jam menunjukkan pukul 11.11 WITA. Cuaca di Ranoyapo sedang cerah-cerahnya. Sangat ideal untuk kerja fisik.
Di lokasi proyek, tampak seorang pria berseragam loreng. Namanya Sertu Novi. Beliau adalah Babinsa dari Kodim 1302/Minahasa.
Sertu Novi tidak sedang memegang senjata. Hari itu, ia sibuk melakukan pendampingan dan pengawasan. Hadir langsung di tengah pekerjaan proyek. Memastikan semua berjalan aman dan lancar.
Progres fisiknya kini sudah mencapai angka yang sangat eksak: 70,36 persen.
Angka di belakang koma itu menunjukkan tingkat presisi pekerjaan di lapangan. Tidak asal-asalan. Tinggal menyisakan kurang dari 30 persen lagi menuju tuntas.
Apa yang dikerjakan hari Sabtu itu?
Para pekerja sedang fokus pada dua hal penting. Pertama, melakukan penyelesaian akhir berupa pemlesteran tembok jembatan. Kedua, mengambil tanah timbun.
Tanah itu diletakkan di bawah tiang blok angkur, fondasi krusial di sisi tepi jembatan agar mampu menahan beban bentangan sepanjang 50 meter tadi.
Beruntung, alam sedang bersahabat. Langit cerah membuat ritme kerja hari itu bisa dikebut secara optimal.
Itulah wujud nyata kehadiran TNI di lapangan. Istilah resminya: kemanunggalan.
Tapi bagi warga setempat, kehadiran Babinsa seperti Sertu Novi adalah jaminan bahwa impian mereka akan segera terwujud.
Begitu jembatan ini tersambung sepenuhnya, wajah ekonomi di Kecamatan Ranoyapo pasti berubah.
Mobilitas lancar, konektivitas antarwilayah terbuka, dan denyut ekonomi warga akan berdetak lebih kencang.
Membangun Indonesia memang harus dimulai dari tempat-tempat seperti Lompad Lama. Lewat infrastruktur kecil, yang dampaknya luar biasa besar. (nes)
- Penulis: Anes Walean
