Menakar Masa Depan Tombasian Atas di Minahasa, dari Urusan Perut hingga Hati Nurani
- account_circle Anes Walean
- calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
- visibility 37
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MINAHASA, INTANA.NEWS – Nama desanya indah: Tombasian Atas. Letaknya di Kecamatan Kawangkoan Barat.
Hari Kamis (11/6/2026), desa itu mendadak riuh. Ada hajat penting di sana: pemaparan visi misi calon hukum tua. (Kepala desa).
Ada tiga kontestan yang maju. Mereka adalah Treis Rawung, S.T. (petahana Hukum Tua) di nomor urut satu, Semuel Mundung di nomor urut dua, dan John F. Koampa, S.Pd. di nomor urut tiga.
Panggungnya serius. Panelisnya tidak main-main. Ada Camat Kawangkoan Barat Heppie Lumintang dan Janny Kalangi, Kasie Trantib dari Tondano Barat.
Ada panitia, BPD, dan tentu saja: para pendukung yang dadanya berdebar-debar.
Saya tertarik dengan cara main nomor urut tiga. John Koampa. Visinya terukur: ingin Tombasian Atas maju, mandiri, aman, dan sejahtera yang berkeadilan. Kalimatnya tertata.
Misinya konkrit.
John rupanya paham betul apa yang dibutuhkan perut dan urat nadi desa.
Dia fokus pada tiga hal mendasar: infrastruktur fisik, kesehatan, dan pendidikan.
Tidak muluk-muluk, tapi esensial. Lalu, dari mana modal ekonominya? John sudah punya jawaban: optimalkan Badan Usaha Milik Desa. BUMDes.
Ini realistis. Desa memang harus mandiri dari bawah.
Tapi yang paling mahal dari politik level desa bukanlah angka-angka di atas kertas. Melainkan kedewasaan warganya.
Di sinilah indahnya. Bryan Koampa, salah satu pendukung John, justru menyuarakan sesuatu yang sejuk.
Kalimatnya sederhana tapi menusuk ke hati: “Jangan lupa tanggal 17 pilih sesuai hati nurani dan tetap jaga persaudaraan.”
Dia ingin pendukungnya militan, tapi tetap netral dalam menjaga kedamaian. Tetap bersaudara.
Rabu depan, tanggal 17, warga Tombasian Atas akan masuk ke bilik suara. Memilih pemimpin baru.
Menang atau kalah itu biasa, tetapi menjaga persaudaraan setelah melangkah keluar dari bilik suara, itulah kemenangan yang sesungguhnya. (*)
- Penulis: Anes Walean
