Menenun Asa di Bukit, Catatan dari SMPN 8 Satap Tondano
- account_circle Anes Walean
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MINAHASA, INTANA.NEWS — Ada sebuah kemewahan yang tidak dimiliki sekolah-sekolah mentereng di kota besar, udara yang menyusup ke ruang kelas dengan aroma pegunungan yang segar.
Itulah SMPN 8 Satap Tondano. Letaknya bukan di jantung keramaian kota, melainkan di sebuah perbukitan kecil yang tenang, bersandar manis di dekat Danau Tondano.
Pagi itu, saya membayangkan bagaimana rasanya menjadi siswa di sana.
Belajar matematika sembari sesekali melempar pandang ke arah hamparan air danau yang membiru di bawah sana.
Itu bukan sekadar tempat menuntut ilmu, itu adalah ruang kontemplasi yang mendamaikan.
Di dinding sekolah, sebuah baliho besar menyambut siapa saja yang datang.
Foto Bupati Dr. Robby Dondokambey, S.Si M.A.P., dan Wakil Bupati Vanda Sarundajang SS., bersanding di sana, mengapit narasi besar: “Minahasa Daerah Pariwisata yang Maju dan Sejahtera.”
Bagi Kepala Sekolah Reine Posumah, keberadaan narasi itu di lingkungan sekolah bukan sekadar pajangan formalitas. Itu adalah kompas.
“Kami berada di wilayah yang secara geografis adalah aset pariwisata. Maka, tugas kami adalah menyiapkan manusianya,” ujarnya.
Reine memahami betul bahwa misi daerah dalam meningkatkan kualitas SDM harus dimulai dari pondasi awal.
Di perbukitan ini, ia bersama para guru sedang menyemai benih-benih unggul agar kelak, saat pariwisata Minahasa kian mendunia, anak-anak Tondano telah siap menjadi tuan rumah yang cerdas dan berdaya saing.
Bagi generasi yang mencintai keindahan visual, SMPN 8 Satap Tondano adalah sebuah permata tersembunyi.
Sekolah ini memiliki karakter yang sangat kuat. Perpaduan antara bangunan yang tertata dengan latar belakang perbukitan dan siluet Danau Tondano menciptakan komposisi yang jujur dan inspiratif.
Berbagi kisah tentang sekolah ini bukan sekadar pamer keindahan, melainkan menyebarkan pesan optimisme bahwa di sudut yang tenang sekalipun, semangat literasi tetap menyala terang.
Ini adalah potret nyata bagaimana visi besar pemerintahan dapat berdenyut hingga ke lereng-lereng bukit.
Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang butuh ketekunan.
Dan dari SMPN 8 Satap Tondano, kita belajar bahwa visi yang besar seringkali dimulai dari tempat-tempat yang tenang, jauh di atas bukit, namun sangat dekat dengan harapan. (nes)
- Penulis: Anes Walean
