Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » Nasional » Sesat Pikir, Mereka yang Memaknai Pernyataan Saiful Mujani dan Islah Bahrawi sebagai Makar

Sesat Pikir, Mereka yang Memaknai Pernyataan Saiful Mujani dan Islah Bahrawi sebagai Makar

  • account_circle Norman Meoko
  • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAKARTA, INTANA.NEWS – Saiful Mujani (pendiri SMRC) dan Islah Bahrawi (Cak Islah). Kedua tokoh ini menjadi sorotan masyarakat beberapa hari ini, karena pernyataan mereka terkait posisi Prabowo Subianto sebagai presiden untuk berhenti sebelum 2029.

Keduanya sepaham mengenai perlunya perubahan kepemimpinan nasional sebelum 2029, namun terdapat perbedaan pendekatan dan perspektif yang signifikan.

Islah Bahrawi lebih menekankan pada alasan kondisi fisik/kognitif bahwa Prabowo sudah “pikun” atau mengalami demensia, dan menyatakan bahwa tidak ada pilihan lain selain Prabowo turun.

Islah juga menilai Prabowo tidak lagi sejalan dengan gagasannya sendiri (sebagaimana ditulis dalam bukunya “Paradoks Indonesia”) dan menganggap pemerintahan saat ini memunculkan kekhawatiran terkait teror, sehingga narasinya menyatakan bahwa Prabowo tidak akan bertahan sampai 2029, dengan melihat kemampuan kepemimpinan Prabowo dan menuntut pengunduran diri atau Presiden Prabowo berhenti.

Sedangkan Saiful Mujani lebih menekankan pada Konsolidasi Kekuatan, dengan menekankan pada aspek perlunya diakhiri masa jabatan Presiden Prabowo Subianto, sebelum 2029, di luar mekanisme impeachment (pemakzulan), karena mekanisme impeachment tidak akan berjalan efektif, sehingga diperlukan konsolidasi kekuatan masa untuk menjatuhkan Prabowo menuju Presiden Prabowo berhenti dari jabatan Presiden.

Bukan Monopoli DPR dan MPR

Jika kita mencermati dan pahami konstitusionalitas perspektif dan pendekatan Saiful Mujani maupun Islah Bahrawi, untuk mengakhiri masa jabatan Presiden Prabowo Subianto, maka kita akan tiba kepada suatu penilaian bahwa pandangan dan pendekatan kedua tokoh ini sesunggunya sangat genuine dalam koridor konstiusi, yaitu pasal 8 UUD 1945, karenanya patut kita dukung ajakan konsolidasi.

Karena ketentuan pasal 8 UUD 1945, membuka pintu lain untuk mengakhiri masa jabatan Presiden dan/atau Wakil Presiden selain impeachment oleh DPR dan MPR, yaitu : Presiden mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, ia digantikan oleh Wakil Presiden sampai habis masa jabatannya (pasal 8 UUD 1945) tanpa hukum acara.

Ketentuan pasal 8 UUD 1945 inilah yang membedakan dengan tegas dan jelas antara kewenangan secara dominus litis DPR dan MPR untuk memberhentikan Presiden lewat mekanisme impeachmant sesuai pasal 7A dan 7B UUD 1945 dengan kekuasaan dan kekuatan eksklusif rakyat sebagai daulat rakyat, mendesak atau menuntut Presiden untuk “berhenti” dari jabatannya sebelum masa jabatan berakhir (pasal 8 UUD 1945).

Dengan demikian, Impeachmant atau Pemakzulan, meskipun merupakan hak eksklusif atau dominus litis DPR dan MPR, namun ia bukan satu-satunya cara konstitusional untuk mengakhiri jabatan seorang Presiden dan/atau Wakil Presiden RI, yang sedang menjabat menurut UUD 1945.

UUD 1945, membuka pintu alternatif lain, yang memberi hak secara eksklusif kepada rakyat, bisa kepada Islah Bahrawi, Sjaiful Muljani bahkan kepada kita semua untuk berbicara dan bertindak mengakhiri masa jabatan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Raka Buming Raka dalam kerangka konstitusi, lewat Presiden “berhenti” atau Presiden tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya” dituntut untuk berhenti (pasal 8 UUD 1945).

Di dalam ketentuan pasal 7A dan pasal 7B UUD 1945, mengatur Impeachmant, syarat-syarat Impeachmant berikut hukum acara untuk mengimpeach seorang Presiden dan/atau Wakil Presiden yang sedang menjabat atau kedua-duanya.

Caranya tentu lewat pintu diberhentikan dalam masa jabatannya oleh MPR atas usul DPR sebagai kewenangan yang eksklusif, baik apabila terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa : pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebabagai Presiden dan/atau Wakil Presiden”.

Kuasa Tuhan dan Daulat Rakyat

Pembentuk UUD 1945, begitu fair dalam mengatur pembagian kekuasaan mengakhiri jabatan seorang Presiden dan/atau Wakil Presiden. Pembentuk UUD 1945, tidak hanya memberikan kekuasaan itu kepada DPR dan MPR, akan tetapi juga kekuasaan itu diberikan kepada Tuhan berupa “Presiden mangkat” dan kekuasaan kepada rakyat berupa “Presiden berhenti” atau Presiden “tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya”, ia digantikan oleh Wakil Presiden sampai habis masa jabatannya, lewat usul, saran bahkan desakan rakyat.

Jadi, UUD 1945 sangat moderat, karena membuka pintu lain untuk mengakhiri masa jabatan Presiden dan/atau Wakil Presiden yang sedang menjabat, di luar mekanisme atau prosedur impeachment yang menjadi kewenangan eksklusif DPR dan MPR, yaitu lewat ketentuan pasal 8 UUD 1945, ayat (1), yaitu : jika Presiden mangkat, “berhenti”, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, ia digantikan oleh Wakil Presiden sampai habis masa jabatannya (tanpa mekanisme impeachmant).

Pembentuk UUD 45, membagi secara proporsional kekuasaan untuk mengakhiri masa jabatan seorang Presiden dan/atau Wakil Presiden, yaitu kepada kekuasaan Tuhan yaitu lewat “mangkat”, kekuasaan untuk DPR, MK dan MPR lewat impeachmant, dan kekuasaan rakyat yang berdaulat lewat “Presiden berhenti” atau karena Presiden “tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatan”, ia diganti, sesuai amanat pasal 8 ayat (3) UUD 1945.

Keliru dan Sesat Pikir

Jadi keliru dan sesat pikir, jika untuk mengakhiri masa jabatan seorang Presiden dan/atau Wakil Presiden, sebagian orang berpikir bahwa mengakhiri masa jabatan Presiden ayau Wakil Presiden, hanya monopoli kekuasaan ekaklusif DPR dan MPR lewat impeachmant atau pemakzulan.

Padahal masih ada pintu masuk lain bagi rakyat yang berdaulat yaitu lewat pintu Presiden “berhenti’ atau Presiden “tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatan”, ia diganti, sesuai amanat pasal 8 ayat (3) UUD 1945, di mana rakyat yang berdaulat, mendaulat agar Presiden mundur atau berhenti dan diganti sebelum akhir masa jabatannya.

Inilah yang dinarasikan secara cerdas oleh Saiful Mujani dan Islah Bahrawi, karena itu ajakan ini harus didukung oleh masyarakat banyak sehingga menjadi kekuatan kontrol yang digdaya dan mumpuni, ketika DPR loyo tak berdaya akan melahirkan kekuatan rakyat dan konsolidasi menuntut perubahan dan perbaikan.(Petrus Selestinus, Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia dan Pergerakan Advokat Nusantara).

  • Penulis: Norman Meoko

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kanwil Ditjenpas Sulut Buka Sekolah Alkitab di Lapas Tondano

    Kanwil Ditjenpas Sulut Buka Sekolah Alkitab di Lapas Tondano

    • calendar_month Kamis, 26 Mar 2026
    • account_circle Anes Walean
    • 0Komentar

    SULAWESI UTARA, ​INTANA.NEWS – Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) Sulawesi Utara perkuat pembinaan karakter warga binaan. Langkah ini nyata melalui pembukaan Sekolah Alkitab di Lapas Kelas IIB Tondano, Rabu (25/3/2026). ​Program tersebut merupakan hasil kerja sama antara pihak Lapas dengan Yayasan Laskar Narapidana Mandiri (Laskar Napiri). Melalui inisiatif ini, penguatan iman menjadi fondasi […]

  • The Best Productivity Tools for Remote Work

    The Best Productivity Tools for Remote Work

    • calendar_month Minggu, 23 Feb 2025
    • account_circle Anes Walean
    • 0Komentar

    As the timeline of technology perpetually accelerates, 2023 emerges as a testament to human creativity and ingenuity. The realm of gadgets is no longer restricted to mere utility; it’s about amplifying human potential and redefining boundaries. With each passing day, these handheld marvels become an even more integrated part of our daily lives, intertwining with […]

  • Wabup Vanda Sarundajang: Generasi Emas Minahasa Tak Boleh Terganjal Efisiensi Anggaran

    Wabup Vanda Sarundajang: Generasi Emas Minahasa Tak Boleh Terganjal Efisiensi Anggaran

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle Anes Walean
    • 0Komentar

    TONDANO, INTANA.NEWS – Pemerintah Kabupaten Minahasa menaruh perhatian serius pada kualitas sumber daya manusia meski di tengah tantangan fiskal. Wakil Bupati Minahasa, Vanda Sarundajang, menegaskan komitmen tersebut saat memantau Ujian Sumatif Akhir Jenjang (USAJ) di SD Katolik Tataran II, Selasa (5/5/2026). ​Wabup Vanda menyatakan bahwa peningkatan mutu pendidikan merupakan investasi jangka panjang bagi daerah. Pemerintah […]

  • Kodim 1302/Minahasa Salurkan Bansos Sembako untuk Jemaat Paroki Sta. Rosa De Lima Tondano

    Kodim 1302/Minahasa Salurkan Bansos Sembako untuk Jemaat Paroki Sta. Rosa De Lima Tondano

    • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
    • account_circle Anes Walean
    • 0Komentar

    TONDANO,INTANA.NEWS – Kodim 1302/Minahasa menyalurkan bantuan sosial (bansos), paket sembako kepada jemaat Katolik Paroki Santa Rosa De Lima Tondano, Kecamatan Tondano Barat, Kabupaten Minahasa, Minggu (5/7/2026). Penyaluran bantuan ini dilangsungkan mulai pukul 15.00 WITA di kompleks gereja setempat. Pembagian paket sembako tersebut menjadi bagian utama dari rangkaian perayaan syukur pentahbisan dan peresmian gedung gereja baru. […]

  • Sekda Minahasa Lynda Watania Pimpin Kunjungan Kerja TPID ke Kabupaten Enrekang

    Sekda Minahasa Lynda Watania Pimpin Kunjungan Kerja TPID ke Kabupaten Enrekang

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • account_circle Anes Walean
    • 0Komentar

    ENREKANG,INTANA.NEWS — Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Minahasa Dr Lynda D Watania MM MSi memimpin kunjungan kerja ke Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Selasa (30/6/2026). Kunjungan kerja ini dilaksanakan dalam rangka program Capacity Building Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Minahasa. ​Kedatangan Sekda Lynda Watania bersama TPID Kabupaten Minahasa disambut oleh Bupati Enrekang Muh Yusuf Ritangnga bersama […]

  • Bapenda Minahasa Minta Warga Abaikan Hoaks dari Akun Bodong Facebook

    Bapenda Minahasa Minta Warga Abaikan Hoaks dari Akun Bodong Facebook

    • calendar_month Rabu, 17 Jun 2026
    • account_circle Anes Walean
    • 0Komentar

    ​MINAHASA, INTANA.NEWS — Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Minahasa meminta masyarakat tidak terprovokasi oleh informasi palsu yang disebarkan akun bodong di media sosial Facebook. Hoaks tersebut dinilai sengaja digulirkan oleh pihak tak bertanggung jawab untuk menggiring opini negatif terkait pendapatan daerah. ​Kepala Bapenda Minahasa, Jeffry M. Tangkulung, menyayangkan adanya upaya disinformasi tersebut. Ia menegaskan bahwa […]

expand_less