Gunakan Dana Desa, Amongena Tiga Bangun Jalan Paving Block Lebar 6 Meter
- account_circle Anes Walean
- calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
- visibility 19
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MINAHASA, INTANA.NEWS — “Segala sesuatu yang kamu lakukan, libatkan Tuhan.” Kalimat Pdt Youje Lalujan itu pendek. Tapi bobotnya berat.
Terutama ketika diucapkan di hadapan tumpukan pasir, semen, dan susunan material di Desa Amongena Tiga, Kecamatan Langowan Timur.
Hari ini , Kamis (24/6/2026) pagi, sebuah pondasi penting sedang diletakkan.
Bukan proyek megah jalan tol nasional, melainkan pembangunan jalan desa.
Sebuah ibadah peletakan batu pertama baru saja digelar dengan khidmat.
Masyarakat desa ingin membangun. Dan mereka memulainya dengan doa.
Proyeknya terlihat sederhana: pemasangan jalan paving block. Panjangnya hanya 80 meter. Namun yang menarik adalah lebarnya: 6 meter.
Untuk ukuran jalan desa atau pemukiman, lebar 6 meter itu luar biasa luas. Akses mobilitas warga dipastikan akan jauh lebih longgar, nyaman, dan bebas dari kesan sempit.
Berapa biayanya?
Hukum Tua Desa Amongena Tiga, Nico Wurangian, membuka angkanya dengan transparan: Rp 140 juta.
Uang itu bukan dari kantong pribadi. Bukan juga sumbangan pihak ketiga.
”Anggarannya bersumber dari Dana Desa (DD) tahun anggaran 2026,” ujar Nico.
Angka Rp 140 juta untuk jalan sepanjang 80 meter dengan lebar 6 meter adalah sebuah hitungan yang harus jadi barang bagus. Di sinilah efisiensi dan kejujuran pengelolaan dana desa diuji.
Maka, Camat Langowan Timur, Ruland Massie S.E., yang hadir langsung di lokasi, tidak mau tinggal diam.
Ia langsung memberikan rambu-rambu yang tegas kepada seluruh jajaran pemerintah desa.
”Kita ketahui bersama bahwa pemasangan paving ini menggunakan anggaran dana desa tahun 2026. Karena itu, kerjakan dengan baik dan bertanggung jawab,” tegas Camat Ruland.
Pesan Camat itu jelas. Dana Desa adalah amanah rakyat.
Setiap rupiahnya harus kembali ke rakyat dalam bentuk fasilitas yang berkualitas, bukan proyek asal jadi yang cepat rusak begitu musim hujan tiba.
Ibadah dan seremoni peletakan batu pertama memang sudah selesai.
Namun kerja sejati baru saja dimulai.
Siang itu, di lokasi proyek, tampak hadir Sekretaris Desa Amongena Tiga bersama seluruh jajaran perangkat desa. Dan yang paling penting: para tukang yang akan bekerja juga sudah bersiap di tempat.
Merekalah ujung tombak yang sesungguhnya. Tangan-tangan merekalah yang akan bermandikan keringat, menyusun balok demi balok beton hingga rapi.
Dimulai dengan melibatkan Tuhan, diawasi dengan penuh tanggung jawab, dan dikerjakan oleh tangan-tangan terampil.
Begitulah seharusnya sebuah desa membangun masa depannya. Sederhana, transparan, dan berdampak. (nes)
- Penulis: Anes Walean
