Jokowi Injak Kepala Kerbau Diketawain PDI Perjuangan, PSI Membalas Katanya Tidak Perlu Komentar Jika Tidak Suka
- account_circle Norman Meoko
- calendar_month 9 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

Momen Presiden ke-7 Joko Widodo menginjak kepala kerbau dalam prosesi penganugerahan gelar kehormatan adat di Kedaton Keagungan Lampung pada Sabtu (27/6/2026).(Foto:Dok/Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, INTANA.NEWS – Safari Politik Jokowi di Lampung diwarnai prosesi injak kepala kerbau.
Sontak saja Jokowi menginjak kepala kepala kerbau yang diletakkan di atas karpet merah itu viral di media sosial dan mendapatkan sorotan publik.
Hal itu mendapat respons Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Andreas Hugo Pareira. Ia bahkan tertawa bila Jokowi menginjak kepala dimaknai dengan merendahkan lambang PDIP.
“Lambang PDI Perjuangan bukan kerbau, melainkan banteng bermoncong putih,” katanya.
Menanggapi tudingan PDIP itu, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bestari Barus di Jakarta pada Senin (29/6/2026) menyatakan, pihaknya menuding PDIP menghina adat dan budaya Lampung.
“Saya kira itu menghinakan adat budaya gitu loh. Itu kan menghina prosesi adat budaya Lampung. Tapi mudah-mudahan masyarakat Lampung menyikapinya dengan bijaklah dan semakin mengetahui betapa mereka sedang berhadapan dengan orang-orang yang tidak paham adat Lampung tapi ngomong-ngomong adat Lampung,” ucapnya.
Ia menjelaskan, prosesi itu sebagai penghargaan kepada Jokowi oleh pimpinan adat di Lampung.
“Iya itu adalah sebuah prosesi adat istiadat Lampung dari beberapa kerajaan itu ya, kerajaan adat itu mereka memberikan penghargaan kepada Pak Jokowi dengan ritual yang memang telah dilaksanakan sebelum adanya PDIP di republik ini,” tuturnya.
Ia selanjutnya mengemukakan, seharusnya PDIP tidak perlu lagi mengomentari Jokowi jika mengedepankan rasa ketidaksukaan.
“Kalau nggak suka ya sudah hindarin saja. Kalau kemudian luka, kecewa, dan merasa terdegradasi oleh ditinggalkan Pak Jokowi, ya berbenah dululah diri. Ini ngaku kadang-kadang oposisi, kadang-kadang tidak oposisi. Orang nggak jelas jenis kelaminnya mau gimana sih,” katanya.
Bestari meminta Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri memberi pelajaran kepada kader-kader PDIP untuk lebih menghargai adat dan budaya.(*)
- Penulis: Norman Meoko
