Buka Pintu bagi Kritik Jurnalis, Cara Ditjenpas Sulut Rawat Kemanusiaan di Balik Jeruji
- account_circle Anes Walean
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MANADO, INTANA.NEWS — Tempat pemasyarakatan tidak boleh lagi terasa dingin dan menakutkan.
Kesan kaku itu dikikis habis oleh jajaran Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kementerian Hukum dan HAM Sulawesi Utara.
Dalam upaya membangun transparansi, Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham Sulut, Haposan Silalahi, memilih duduk bersama insan pers, Senin (29/6/2026).
Pertemuan di Kantor Wilayah Sulut ini bukan sekadar seremonial humas yang biasa.
Haposan sengaja membuka pintu lebar-lebar untuk berdialog, menerima masukan, bahkan kritik dari para jurnalis.
Bagi Haposan, keterbukaan informasi publik adalah kunci.
Ia paham betul bahwa mengelola lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan (rutan) di era modern tidak bisa lagi menggunakan pendekatan kekuasaan semata.
Aspek keamanan memang mutlak, namun memanusiakan manusia di balik jeruji besi adalah esensi yang jauh lebih besar.
”Pembinaan terhadap warga binaan tidak hanya berfokus pada aspek keamanan, tetapi juga diarahkan pada pembentukan karakter, peningkatan keterampilan, serta kesiapan mereka untuk kembali diterima di tengah masyarakat,” ujar Haposan tegas.
Target akhirnya jelas, ketika masa pidana usai, para warga binaan tidak keluar sebagai mantan narapidana yang ditolak lingkungan, melainkan sebagai individu baru yang mandiri dan produktif.

Kakanwil Ditjenpas Sulut Haposan Silalahi (tengah) dan jajaran bersama jurnalis di Kantor Wilayah Kemenkumham Sulut, Manado, Senin (29/06/2026).
Salah satu langkah konkretnya adalah mengintegrasikan pelatihan keterampilan warga binaan dengan program nasional ketahanan pangan.
Di sinilah pers memegang peran strategis. Kepala Bagian Tata Usaha dan Umum Kanwil Sulut, Yulius Paath, yang turut mendampingi, menggarisbawahi pentingnya komunikasi dua arah yang sehat.
Media massa bertindak sebagai jembatan informasi. Lewat pena jurnalis, dinamika positif dan inovasi di dalam lapas dapat tersampaikan secara akurat kepada publik.
Bagaimana wujud nyata dari pembinaan manusiawi ini?
Lapas Perempuan Kelas IIB Manado bisa menjadi cerminannya.
Kepala Lapas Perempuan Manado, Patta Helena, memaparkan bahwa warga binaan perempuan di bawah asuhannya tidak dibiarkan merenungi nasib dalam sepi.
Mereka disibukkan dengan berbagai aktivitas yang produktif. Selain penguatan mental spiritual dan pemenuhan hak pendidikan, mereka dibekali keahlian praktis yang sangat spesifik.
Di sana, ada kelas menjahit, program Happy Cooking, hingga pembuatan kerajinan tangan.
”Program-program ini dirancang untuk memberikan kesempatan kepada warga binaan perempuan agar memiliki keterampilan yang dapat menjadi modal usaha maupun sumber penghasilan ketika kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat,” kata Patta Helena.
Di balik aroma masakan dari dapur latihan dan deru mesin jahit di Lapas Perempuan Manado, ada asa kemandirian ekonomi yang sedang dirajut.
Ketika pintu gerbang lapas akhirnya terbuka kelak, mereka tidak lagi kebingungan mencari arah, karena mereka sudah memegang kunci untuk mandiri secara finansial.
Sistem pemasyarakatan memang telah berubah dari sistem kepenjaraan yang menghukum menjadi sistem yang memulihkan hubungan hidup, kehidupan, dan penghidupan.
Langkah keterbukaan dan pendekatan humanis oleh Ditjenpas Sulut ini mengirimkan pesan yang kuat, tembok lapas boleh saja membatasi ruang gerak fisik, tetapi ia tidak boleh mematikan masa depan dan hakikat kemanusiaan seseorang. (nes)
- Penulis: Anes Walean
