Hari Bhayangkara ke-80, Presiden Prabowo Ingatkan Polri Jangan Sombong Jaga Kepercayaan Rakyat
- account_circle Norman Meoko
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 11
- comment 0 komentar
- print Cetak

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato saat upacara Hari Bhayangkara ke-80 di Satlat Brimob Cikeas, Bogor, Jawa Barat pada Rabu (1/7/2026).(Foto:Dok/ Humas Korps Brimob Polri)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BOGOR, INTANA.NEWS – Presiden Prabowo Subianto memimpin upacara Hari Bhayangkara ke-80 di Satuan Latihan Korps Brigade Mobil Polri, Cikeas, Bogor, Jawa Barat pada Rabu (1/7/2026).
Dalam kesempatan itu, Prabowo meminta Polri menjaga kepercayaan rakyat. Karena kepercayaan adalah senjata terkuat dari seorang polisi.
“Jadilah polisi yang dekat dengan rakyat. Datanglah ketika rakyat membutuhkan, dengarkan rakyat, layani rakyat, lindungi rakyat, jangan justru menyusahkan rakyat. Ingat, gaji kita sebagai alat negara adalah dari rakyat, semua perlengkapan kita dari rakyat, karena itu kita harus benar-benar menjaga dan melindungi rakyat kita,” katanya.
Selain itu, ia juga meminta agar Polri melakukan penegakan hukum dengan adil.
“Tegakkan hukum dengan adil. Berani lah membela yang benar, beranilah melindungi yang lemah, jangan pernah takut kepada siapa pun, kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa,” tuturnya.
Polri harus memperkuat sinergitasnya. Sebab, Prabowo menilai bahwa Polri tidak akan bisa bekerja sendirian.
“Perkuat sinergi. Polri tidak bisa bekerja sendiri, harus selalu bersama institusi lain. Bersama TNI, bersama pemerintah, bersama semua institusi pemerintah, bersama tokoh masyarakat, bersama ulama, bersama akademisi, bersama media, bersama pengusaha, bersama petani, nelayan, dan buruh, serta bersama seluruh rakyat Indonesia,” dia melanjutkan.
Di akhir sambutannya Prabowo berpesan agar seluruh insan Bhayangkara tidak sombong. Dia meminta agar polisi menerapkan ‘ilmu padi’.
“Jangan pernah berhenti memperbaiki diri dan jangan sombong. Semakin berisi semakin menunduk. Rendah hati tidak berarti rendah diri, justru mereka yang kuat akan semakin sopan dan semakin berperilaku baik. Institusi yang besar adalah institusi yang mau mendengar, institusi yang kuat adalah institusi yang berani berubah, institusi yang dicintai oleh rakyat adalah institusi yang selalu rendah hati,” ia menambahkan.
Dalam kesempatan itu hadir Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka, Presiden ke-7 Joko Widodo, Ketua DPR Puan Maharani, Ketua DPD Sultan Bachtiar Najamudin, Jaksa Agung ST Burhanuddin, Wapres ke-10 dan 12 Jusuf Kalla, dan jajaran Menteri Kabinet Merah Putih.(*)
- Penulis: Norman Meoko
