Reses Masa Persidangan Ketiga, Legislator Dapil I Minahasa Pastikan Aspirasi Warga Masuk Pokir
- account_circle Anes Walean
- calendar_month 6 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oplus_131072
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MINAHASA, INTANA.NEWS – Udara yang sejuk di Kelurahan Tataaran, Kecamatan Tondano Selatan, Jumat (7/8/2026), tampak berbeda dari biasanya.
Aula pertemuan di wilayah tersebut dipenuhi warga dari berbagai penjuru Tondano Raya yang datang dengan satu harapan besar, suara dan keluh kesah mereka didengar oleh para wakil rakyat.
Tiga anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Minahasa dari Daerah Pemilihan (Dapil) I hadir untuk bertatap muka.

Mereka adalah Ketua DPRD Minahasa Franky Wolayan, S.E., didampingi dua anggota legislatif lainnya, Refly D. Ngantung, S.P., dan Liony Leontin Mongi, S.H.
Kehadiran mereka dalam rangka reses masa persidangan ketiga ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang terbuka bagi masyarakat di empat kecamatan, Tondano Barat, Tondano Selatan, Tondano Timur, dan Tondano Utara, untuk menumpahkan berbagai persoalan harian yang mereka hadapi.

Satu per satu warga dan lurah bergantian mengutarakan unek-unek mereka.
Dari balik microphone, benang merah dari berbagai aspirasi itu mengerucut pada satu kebutuhan mendasar, infrastruktur yang layak.

Warga Kelurahan Tataaran Dua, misalnya, menyuarakan kebutuhan mendesak akan pembangunan jalan paving di Lingkungan II serta akses menuju area pekuburan.
Suara serupa bergema dari perwakilan Tondano Utara yang mendambakan pembangunan jalan penghubung Jalan Kulo hingga jalur alternatif Tonsea Lama-Marawas.
Bahkan, di Kelurahan Wulauan, warga mengeluhkan jalur lalu lintas yang hanya satu jalur sehingga kerap memicu kemacetan saat ada kegiatan warga, seperti pesta maupun kedukaan.
Persoalan fasilitas sosial dan umum tak luput dari sorotan.
Lurah Wewelen, Yanny Kalangi, menyampaikan problem pelik mengenai lahan pekuburan baru seluas dua hektare yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat.
Lahan tersebut hingga kini belum bisa difungsikan karena ketiadaan akses jalan, padahal kapasitas pemakaman lama di kawasan Pasar Atas Tondano Barat sudah hampir penuh.
Di sisi lain, warga juga menitipkan harapan agar fasilitas publik seperti penerangan jalan, jaringan irigasi di Kelurahan Kiniar, hingga sarana di Lapangan God Bless mendapatkan perhatian pemeliharaan.
Tidak hanya urusan fisik, denyut nadi keseharian warga Tondano Barat juga membawa persoalan lingkungan dan masa depan generasi muda.
Permintaan penambahan armada pengangkut sampah disuarakan demi kebersihan kota, bersanding dengan harapan agar anak-anak Minahasa mendapat jalan lebih luas untuk mengenyam pendidikan di sekolah unggulan.
Menanggapi aspirasi yang begitu dinamis, Franky Wolayan memastikan bahwa setiap keluhan, masukan, dan usulan tersebut tidak akan berhenti sekadar menjadi catatan di atas kertas.

Di hadapan ratusan warga, ia menegaskan komitmennya untuk membawa seluruh aspirasi ini ke dalam ruang sidang resmi DPRD.
“Pokir merupakan sarana penting bagi DPRD untuk mengawal kebutuhan masyarakat secara terarah dan terstruktur. Seluruh aspirasi tentu akan kami perjuangkan sesuai skala prioritas dan kemampuan keuangan daerah,” ujar Franky.
Menjelang senja, dialog interaktif itu ditutup dengan optimisme.
Sinergi yang terajut antara legislatif, jajaran eksekutif, mulai dari para camat hingga lurah, serta masyarakat di wilayah Tondano Raya diharapkan mampu menjadi motor penggerak pemerataan pembangunan di Kabupaten Minahasa ke depannya. (*)
- Penulis: Anes Walean

Saat ini belum ada komentar