Waspada! Data Densus 88 Antiteror Ungkap 620 Anak di Indonesia Terpapar Paham Kekerasan dan Radikalisasi
- account_circle Norman Meoko
- calendar_month Rabu, 2 Sep 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Eddy Hartono.(Foto: Dok/sindonews.com)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, INTANA.NEWS – Sepanjang Januari hingga Agustus 2026 tercatat sedikitnya 620 anak terpapar paham kekerasan dan radikalisasi. Mereka terpapar melalui media sosial (medsos) hingga podcast.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Eddy Hartono mengungkapkan hal tersebut dalam acara Pnguatan Peran Komite Sekolah, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan dalam Pencegahan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme di Satuan Pendidikan di Jakarta pada Rabu (2/9/2026).
“Ratusan anak tersebut yang terpapar itu berusia antara usia 11 hingga 18 tahun dan tersebar di 34 provinsi di Indonesia,” tuturnya.
Dia menjelaskan, data tersebut berasal dari Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri.
Lebih jauh dikatakan, ratusan anak itu terpapar melalui ruang digital seperti media sosial, podcast, hingga forum.
“Mereka disebut dapat tergabung dalam komunitas atau ekosistem digital yang membahas berbagai peristiwa kejahatan nyata,” katanya.
BNPT menurut dia tidak langsung mencap anak yang tergabung dalam komunitas tertentu sebagai teroris atau ekstremis.
“Bukan misal kayak gini, ‘Oh anak ini sudah tergabung dalam True Crime Community berarti dia teroris atau dia ekstremis.’ Bukan. Justru kita lebih kepada risk-based behavior assessment,” dia menjelaskan.
Terkait hal itu, Eddy Hartono mengemukakan, pihaknya akan melakukan intervensi di berbagai daerah dengan pendekatan rehabilitasi dan bukan penegakan hukum.
Ia menambahkan, penguatan peran sekolah, tenaga pendidik, dan tenaga kependidikan menjadi penting untuk mencegah anak terpapar ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme.(nor)

Saat ini belum ada komentar