Bukan Sekadar Pintar, Wabup Vanda Ajak Siswa SMP Asah Kecerdasan Emosional
- account_circle Anes Walean
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 21
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TONDANO, INTANA.NEWS — Pemerintah Kabupaten Minahasa melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) menggelar Sosialisasi Bina Rohani di SMP N 4 Tondano, Rabu (13/5/2026).
Wakil Bupati Minahasa, Vanda Sarundajang, memimpin langsung edukasi keberagaman ini di hadapan ratusan peserta didik sebagai bekal menuju generasi emas Indonesia.

Pagi itu, suasana di SMP N 4 Tondano tampak berbeda. Vanda Sarundajang hadir tidak sekadar sebagai pejabat, melainkan sebagai sosok ibu bagi para siswa.
Ia didampingi Asisten I, Kepala Kesbangpol, Kabag Kesra, serta Camat Tondano Barat. Fokusnya jelas, kecerdasan intelektual saja tidak cukup.
”Kita ingin anak-anak Minahasa tidak hanya cerdas otak. Mereka harus punya kecerdasan emosi yang baik dan karakter budi luhur,” ujar Wabup Vanda.
Ia mengatakan bahwa sinergitas antara Kesbangpol dan FKUB merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga stabilitas sosial di tengah kemajemukan bangsa.
Vanda kemudian mengajak siswa berdialog interaktif. Ia memaparkan fakta-fakta besar tentang Indonesia.
Mulai dari luas wilayah 2 juta kilometer persegi hingga status sebagai negara dengan penduduk terbesar keempat di dunia.
Baginya, data tersebut adalah kekuatan sekaligus tantangan dalam merawat persatuan.
”Indonesia memiliki 17.500 pulau dan 1.340 suku bangsa. Keragaman ini adalah aset, bukan beban. Siswa harus menghargai perbedaan agama dan suku sejak dari bangku sekolah,” tegasnya.
Menurut Vanda, pemahaman yang matang mengenai toleransi akan mencegah konflik sepele yang sering muncul akibat perbedaan latar belakang atau fisik.
Pihak sekolah mendapat apresiasi atas keterbukaan mereka menjadi lokomotif pembinaan moral ini.
Vanda meyakini bahwa sekolah adalah laboratorium terbaik untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan.
Jika fondasi mental ini kuat, maka cita-cita menciptakan generasi emas bukan sekadar slogan.
Pendidikan karakter ini menjadi jawaban atas pertanyaan bagaimana Indonesia tetap utuh di masa depan. Acara ditutup dengan sesi tanya jawab yang hangat.
Para siswa diingatkan kembali bahwa meski berbeda potongan rambut hingga warna kulit, mereka tetap satu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Inilah esensi dari pembinaan rohani, menjaga hati demi menjaga negeri. (nes)
- Penulis: Anes Walean
