Prajurit Yon TP 916/Bara Sakti Dalami Musik Bambu di Kodim 1302 Minahasa
- account_circle Anes Walean
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MINAHASA, INTANA.NEWS – Pelataran Makodim 1302/Minahasa sore ini, Jumat (15/5/2026), tidak riuh oleh derap langkah sepatu lars.
Sebaliknya, suasana terasa lebih hangat dengan alunan nada yang keluar dari bilah-bilah bambu dan corong kuningan.
Sejumlah personel dari Yon TP 916/Bara Sakti tampak serius namun santai, larut dalam sesi latihan alat musik tradisional tiup khas Minahasa.
Latihan ini menjadi pemandangan menarik bagi siapa pun yang melintas di depan markas teritorial Kodim 1302 Minahasa.
Para prajurit yang biasanya sigap memegang senjata, kini harus berjibaku menyelaraskan napas dengan lubang-lubang nada pada instrumen musik bambu.
Fokus utama dalam latihan kali ini adalah teknik pernapasan dan sinkronisasi ketukan.
Musik bambu Minahasa dikenal menuntut kekompakan yang luar biasa, satu tiupan yang tidak tepat waktu bisa merusak harmoni seluruh kelompok.
Di sinilah disiplin militer menemukan tempatnya dalam seni.
”Memainkan musik bambu ini hampir sama dengan latihan menembak, butuh ketenangan dan pengaturan napas yang presisi,” celetuk salah satu personel di sela-sela latihan.
Para prajurit Yon TP 916/Bara Sakti berdiri berdampingan dengan warga sipil, termasuk anak-anak muda, yang turut serta dalam kelompok musik tersebut.
Tidak ada sekat antara seragam loreng dan kaos oblong, semuanya fokus pada satu tujuan, menghasilkan nada yang sempurna.
Di dekat sebuah meriam tua yang menjadi ikon halaman Kodim 1302/Minahasa, para pemain alat tiup bass hingga melodi berkumpul melingkar.
Latihan ini merupakan bagian dari upaya menjaga kelestarian budaya lokal agar tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Kehadiran personel Yon TP 916/Bara Sakti dalam kegiatan ini memberikan warna tersendiri.
Keterlibatan mereka membuktikan bahwa peran prajurit tidak hanya terbatas pada pertahanan keamanan, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam merawat identitas daerah.
Seiring matahari mulai turun di ufuk barat Tondano, sebuah lagu daerah Minahasa akhirnya mengalun utuh.
Suara musik bambu yang megah itu menggema, memantul di dinding – dinding Makodim.
Bagi para prajurit Bara Sakti, sore itu adalah tentang dedikasi yang berbeda.
Di tangan mereka, bambu-bambu itu tidak hanya mengeluarkan suara, tetapi juga menceritakan kisah tentang kemanunggalan yang tulus di tanah Minahasa. (*)
- Penulis: Anes Walean
