Cara Polres Minahasa Merawat Kamtibmas dari Kebun Toka
- account_circle Anes Walean
- calendar_month Kamis, 27 Agt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TONDANO, INTANA.news – Bayangkan ini.
Sebuah lokasi sabung ayam. Tempat yang biasanya bising oleh teriakan petaruh, gelontoran uang panas, dan ketegangan urat leher.
Tapi pada Kamis, 27 Agustus 2026, tempat itu mendadak berubah wujud.
Tidak ada ayam yang diadu. Yang ada justru suara pujian kepada Sang Pencipta.
Pendeta berkotbah di tengah kebun. Polisi berseragam lengkap duduk bersila, khusyuk berdoa.
Inilah gebrakan tak biasa dari Polres Minahasa. Namanya langsung mencuri perhatian: program “Samsung”.
Jangan keliru. Ini sama sekali bukan merek ponsel pintar asal Korea Selatan. Di Minahasa, “Samsung” adalah akronim kreatif untuk Sambang Lokasi Sabung Ayam.

Suasana Ibadah di Kebun Toka, Sejumlah personel Polres Minahasa tampak khusyuk mengikuti Ibadah Pembinaan Rohani dan Mental. (Foto: Humas Polres Minahasa)
Ide yang cerdas. Lokasinya dipilih di kawasan perkebunan Toka, Desa Kembuan, Kecamatan Tondano Utara. Tempat yang sejatinya asri itu disulap jadi arena Pembinaan Rohani dan Mental (Binrohtal) Kristen.
Khadimnya pun tidak main-main: Pdt. Brando Kondoj, M.Th., Pendeta Jemaat GMIM Betel Kembuan. Dengan mengusung tema “Pertobatan yang Benar”, sang pendeta mengajak umat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus mendoakan para pelaku perjudian agar lekas sadar dan bertobat.

Jajaran petinggi Polres Minahasa tampak hadir. Kabag SDM AKP Michael A.J. Siwu, Kasat Samapta IPTU Oksin Prong, Kasat Tahti IPTU Yohanis Kawalo, Kasiwas IPTU Tonny Simaremare, hingga Kapolsek Toulimambot IPDA Stenly Carundeng.
Perangkat desa setempat, mulai dari Sekdes Tinneke Lengkong hingga Bendahara Ferdy Lumoindong, ikut dalam ibadah tersebut.
Pemerintah Desa Kembuan, melalui Hukum Tua Olke Teske Walalangi, menyambut terbuka langkah ini.
Apresiasi mengalir. Penyakit masyarakat seperti judi memang kerap jadi duri dalam daging, dan pendekatan kultural-religius ini dinilai jauh lebih mengena.
Wakapolres Minahasa, Kompol Deky Ridwan Pangandaheng, S.Sos., M.H., menegaskan hal senada.
“Kawasan perkebunan ini indah. Semestinya dimanfaatkan untuk kegiatan positif dan memuji Tuhan, bukan dijadikan sarang perjudian,” ujar Kompol Deky.
Ia juga memastikan bahwa program “Samsung” ini merupakan wujud komitmen Kapolres Minahasa AKBP Steven J.R. Simbar, S.I.K.
Ini bukan sekadar gimik atau pencitraan di depan publik. Ini adalah upaya membumikan kepolisian yang humanis, berlandaskan kasih, sekaligus menuntun warga agar taat hukum.
Belum cukup dengan “Samsung”, Polres Minahasa rupanya punya jurus lanjutan: program “Kongkow-kongkow dengan Masyarakat”.
Sebuah konsep komunikasi ala warung kopi. Polisi mendatangi warga, duduk bersama, mendengar langsung uneg-uneg rakyat, melakukan “belanja masalah”, dan mencari solusi tanpa sekat birokrasi yang kaku.
Pendekatan boleh kreatif. Akronim program boleh nyeleneh.
Tapi di balik semua itu, ada pesan kuat yang dikirim Polres Minahasa, merangkul masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan, ketertiban, dan kedamaian di tanah Minahasa. (nes)

Saat ini belum ada komentar