Ryass Rasyid Kritik Pemerintahan Prabowo, Katanya Persoalan Utamanya Terletak pada Ketidakmampuan Atasi Masalah
- account_circle Norman Meoko
- calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Mantan Ketua Reformasi Politik Nasional, Ryaas Rasyid. (Foto: Dok/Tik Tok)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, INTANA.NEWS – Mantan Ketua Reformasi Politik Nasional, Ryaas Rasyid mengkritik pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menyatakan bahwa persoalan utamanya terletak ketidakmampuan mengatasi masalah.
Ia menyatakan hal itu seperti dikutip dari YouTube Forum Keadilan TV pada Selasa (22/9/2026).
Ryaas Rasyid menyatakan, berbagai persoalan yang dihadapi pemerintah saat ini telah menumpuk dan saling berkaitan dengan ketidakmampuan menyelesaikannya.
“Karena itu terjadi akumulasi ‘kan, terjadi perputaran yang akumulatif antara masalah besar dan ketidakmampuan mengatasi masalah,” tuturnya.
Dia menilai pemerintah Presiden Prabowo Subianto tidak cukup hanya mendatangkan para ahli untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi Indonesia.
“Ya, persoalan utama justru terletak pada kemampuan memahami akar masalah sebelum menentukan langkah penyelesaian,” katanya.
Selanjutnya dikemukakan bahwa masalah yang terus bertumpuk akan sulit diselesaikan jika tidak diikuti kemampuan untuk memahami persoalan secara menyeluruh.
“Jadi masalah beliau itu ketidakmampuan. Jadi ini masalah bertumpuk-tumpuk enggak mungkin ada solusi,” dia mengemukakan.
Ditambahkannya, seorang pemimpin harus terlebih dahulu memahami duduk perkara sebelum menentukan solusi. Pemahaman itu mencakup penyebab masalah hingga berbagai pilihan yang tersedia untuk mengatasinya.
“Karena begini untuk bisa menemukan solusi, Anda harus mengerti duduk masalah, Anda harus mengerti sebab-sebab terjadinya masalah, Anda harus mengerti pilihan alternatif untuk mengatasi masalah,” ia menegaskan.
Ryaas bahkan menyebut mendatangkan puluhan ahli tidak akan otomatis menyelesaikan persoalan apabila pola penanganan masalah tidak berubah.
“Seandainya pun semua orang pintar di dunia, katakanlah Anda membutuhkan 20 orang pintar untuk mengurus negara ini didatangkan ke Indonesia, tidak akan selesai dengan pola sekarang ini,” tuturnya.
Karena itu, Ryaas menilai pemerintah membutuhkan perubahan dalam cara melihat dan menangani persoalan masyarakat.
“Pemimpin perlu memiliki keteguhan sekaligus keterbukaan untuk memahami kondisi rakyat serta menyelesaikan persoalan secara bertahap,” ia menambahkan.(nor)

Saat ini belum ada komentar