Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » Berita Utama » Kerja Bakti di Tugu Korengkeng, Ketua PKK Minahasa: Menjaga Kebersihan Harus Jadi Budaya

Kerja Bakti di Tugu Korengkeng, Ketua PKK Minahasa: Menjaga Kebersihan Harus Jadi Budaya

  • account_circle Anes Walean
  • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TONDANO, INTANA.NEWS – Ada yang tahu Tugu Korengkeng Sarapung di Minahasa? Itu simbol sejarah. Simbol harga diri orang lokal.

​Kamis pagi tadi, tugu itu mendadak ramai. Bukan karena ada demo. Bukan juga karena ada upacara yang formal. ​Ada kerja bakti massal.

​Yang memimpin? Ini dia: Ibu Martina W. Dondokambey Lengkong. Ketua TP-PKK Kabupaten Minahasa.

​Matahari Minahasa mulai terasa menyengat. Tapi Martina santai saja. Penampilannya kasual: kaos merah celana jins, dan topi merah.

​Matahari makin tinggi, tapi Martina tidak canggung. Dia melangkah maju. Tangannya langsung memegang sapu.

Tanpa ragu, Ketua TP-PKK ini ikut membersihkan pembatas jalan.

Rumput liar yang nyempil di sela-sela tegel semen dicabutnya sendiri.

​Melihat ketuanya gasspol seperti itu, mana ada anak buah yang berani berdiam diri?

​Kader PKK langsung bergerak. Ibu-ibu Dekranasda ikut menyusul. Pengurus Dharma Wanita Persatuan tidak mau kalah.

Ada yang mengayunkan sapu lidi, ada yang sibuk mengeruk selokan.

​Melihat ketuanya langsung turun tangan, semangat gotong royong itu langsung menular. Semua bergerak serentak.

Inilah esensi dari memimpin dengan teladan (lead by example).

​”Menjaga kebersihan itu harus jadi budaya sehari-hari. Toh, yang menikmati hasilnya kita sendiri. Lingkungan bersih, hidup sehat,” ujarnya.

​Benar juga. Langkah kecil dari Tugu Korengkeng ini sebenarnya punya visi besar.

Martina ingin aksi ini menyokong program nasional, Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Rapi, dan Indah).

​Menjelang siang, kerja bakti itu usai. Tugu Korengkeng Sarapung langsung terlihat beda.

Jauh lebih resik. Cat merah pada tulisan tugu ikonik itu tampak lebih menyala.

​Aksi hari itu memberikan pesan yang mendalam bagi kita semua bahwa merawat situs sejarah dan keindahan daerah bisa dimulai dari hal-hal paling sederhana.

Terkadang, kita hanya butuh seikat sapu lidi, kepedulian bersama, dan kebersamaan untuk bergotong royong.

​Martina sudah memulai dengan sapu lidinya. Kita kapan?

  • Penulis: Anes Walean

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less